jump to navigation

Pesta October 26, 2009

Posted by zidan1 in ada yang lain dariku, mereka, dan mereka, dan aku.
2 comments

Seorang penyair melalui bait-baitnya yang sederhana mengingatkan saya suatu hal yang bermakna tentang pesta:

Di barat, matahari tenggelam beberapa saat lalu. Hari ini sudah seminggu berlalu, semenjak undangan itu masuk ke rumah sederhana kami, dari ibu-anak yang datang dengan Corolla biru: undangan untuk menghadiri pesta ulang tahun.

Kami bersiap. Kami lebih dari cukup bisa membayangkan kata “pesta” itu sendiri mewakili sesuatu di benak kami tentang hal-hal megah dan istimewa. Apalagi ibu-anak itu datang dengan mobil Corolla biru —yang kami pun hanya mimpi di siang bolong untuk memilikinya: sebuah pesta bisa berarti kata lain foya-foya. Mungkin malam ini akan seperti pesta “biasa”: potong kue, tiup lilin, dan tepuk tangan bernyanyi Hepi-Bisde-Tuyu – Hepi-Bisde-Tuyu.

Dan berangkatlah kami pada waktu yang ditentukan Berjumlah dua
puluh tiga, termasuk bapak dan ibu asrama. Jalan kaki bersama, karena
jaraknya cuma terpisah sepuluh rumah saja

Sampai di sana kami dipersilakan masuk dengan ramah. Rumah yang megah, pikir kami. Kami, seperti biasanya orang-orang panti yang dipenuhi keminderan, sebenarnya ingin duduk di belakang-belakang saja. Tapi kami diminta berbaur dengan remaja-remaja “lain”  —remaja-remaja “lain” tersebut adalah sebagaimana remaja-remaja perkotaan: harum-harum, sehat-sehat, berbaju apik dan mahal, serta tembem-tembem pipinya.

Bagi kami, anak-anak panti, yang menjadi musuh pada saat-saat seperti ini adalah rasa minder, selain canggung dan pegal bersila. Di tengah-tengah perabot antik yang berjajar, lampu kristal yang bergelantungan menawan, serta di karpet lembut yang entah bagaimana sangat nyamannya diduduki, saya menatap suasana di sekitar dengan setengah tegap setengah menunduk. Namun sesaat kemudian saya terkejut, Tuan…

Lalu seorang remaja membaca Surah Luqman.
Dengan suara amat merdunya dan suaranya berubah jadi untaian mutiara
Yang berkilauan jadi kalung di leher pendengarnya

Tak ada potong kue, tak ada acara tiup lilin, tak ada tepuk tangan dan nyanyian Hepi-Bisde-Tuyu – Hepi-Bisde-Tuyu —tak ada definisi “pesta” seperti yang ada dalam kamus pikiran kami. Yang sedikit ada adalah pidato dari anak yang berulang tahun, yang menghantarkan surat undangan kepada kami sepekan yang lalu. Lia namanya:

”Dalam acara seperti ini, bukan saya yang jadi pusat perhatian diperingati atau dihargai tapi mama…Ya, mama kita, Ibunda kita dan ayahanda. Ibunda dan ayahanda adalah pusat perhatian kita. Hari ini, enam belas tahun yang lalu, mama melahirkan saya. Posisi saya sungsang, Saya terlalu besar. Jadi mama harus sectio Caesaria. Mama dibedah, berdarah-darah. Seluruh keluarga khawatir dan berdoa. Di luar ruang operasi duduk menanti berita dalam kecemasan luar biasa. Tapi Alhamdulillah kelahiran selamat walau pun mama sangat menderita.

Sekarang ini, enam belas tahun kemudian. Ulang tahun saya dirayakan. Saya pikir, tidak logis saya jadi pusat perhatian. harus mama yang jadi pusat perhatian. Mama. Bukan saya, Saya pikir, tidak logis saya minta kado. Harus mama yang diberi kado…”

Tak lama, sebuah bingkisan kertas berkilat, diikat bunga berbentuk pita, diberikan oleh Lia untuk ibundanya, persis 16 tahun setelah sang ibu itu mempertaruhkan nyawa berdarah-darah. Napas tertahan, kemudian muncul haru, kemudian muncul isak air mata, lalu hening…

Lia tak mau ada upacara tiup lilin, “dalam ensiklopedi zaman batu di Eropa diketemukan bahwa nyala lilin bisa mengusir sihir, roh jahat, leak, memedi, sijundai, dan semacamnya”. Lia menolak superstiti Romawi Kuno. Tak bisa cita-cita terkabul hanya dengan sekali-tiup-semua-lilin-padam. “Saya tak mau cuma jadi kawanan burung kakaktua, burung beo yang pintar meniru adat Belanda dan Amerika”, begitu lanjutnya.

”Hadiah paling saya harapkan dari kalian
Adalah doa bersama, sesudah hamdalah dan
salawat karena saya ingin jadi anak yang baik laku, jadi perhiasan di leher
ibuku , jadi penyenang hati ayahku, rukun dengan kakak-kakak dan
adik-adikku, bertegur-sapa dengan semua tetangga. Dan kelak ketika
dewasa berguna bagi Indonesia.”

Setelah makan saya melihat tuan rumah yang baik hati itu. Bapak dan ibu itu berdiri bersama Lia anak gadisnya dan berbicara sangat mesra. Kubayangkan ayahku almarhum, mungkin seusia dengan bapak ini, beliau meninggal ketika umurku setahun. Kubayangkan ibuku almarhumah wafat ketika aku kelas enam SD. Mungkin seusia pula dengan ibu itu. Dan saya ingat, Tuan…tak pernah aku merayakan ulang tahunku…Tidak pernah…

Ini memang bukan kisah saya, seseorang yang besok resmi berumur 20 tahun versi penanggalan Masehi. Taufik Ismail menulis kisah ini dalam puisi Cerita Seorang Anak Yatim Piatu Selepas Pesta Ulang Tahun Tetangganya. Tapi tak ada salahnya saya mencoba melekatkan cerita Taufik pada hari-hari ini —ketika masa depan lebih tak pasti dari takhayul dan akhirat mendekat. Ketika saya masih sempat berdoa seperti anak yatim dalam pesta ulang tahun yang haru: Semoga sorga firdaus jua bagi ibu bapakku.

Mungkin suatu hari seseorang membisikkan kisah ini untuk anaknya, di suatu malam yang indah, di suatu hati yang terlelap —dan kisah pun berulang. Mungkin kau bisa lebih mengerti dariku, Kawan, tentang “saya” dalam kisah, juga tentang Lia.

Sekian, cerita pada suatu malam yang mengagumkan. Tak tertahan. Titik air mataku.

Di Pittsburgh October 24, 2009

Posted by zidan1 in lubang yang (biasa) tersingkap.
add a comment

Konferensi Tingkat Tinggi berlangsung di kota yang telah berdiri 183 tahun. Di Pittsburgh, Negara Bagian Pennsylvania: 24-25 September lalu.

Tokoh-tokoh G-20 berkumpul: Nicolas Sarkozy, Barack Obama, Gordon Brown, dan lain-lain. Tapi kehadiran para tokoh-tokoh itu bukanlah hanya kehadiran, dengan jas-jas yang necis dan wangi. Setidaknya kita berharap demikian. Sebab  kehadiran memunculkan asa. Harapan itu kemudian membuat jalan manusia tak terlihat bersifat impasse. Sebab itu manusia bertahan setelah berbagai revolusi dan peperangan. Sebab itu kehadiran sama juga dengan secercah keinginan untuk keluar —keluar dari hal-hal yang menghimpit.

Tapi sebagaimana revolusi, atau peperangan, ada yang dikorbankan dalam apa yang dinamakan “modernisasi”, “industrialisasi”, atau apalah lagi sebutan buat dunia yang makin berkembang ini. Hal-hal yang menghimpit itu pada akhirnya tidak dapat dihindari. Setelah revolusi dan peperangan, hal selanjutnya adalah selalu perbaikan. Dan kini bumi dalam keadaan yang pelik dan butuh, setidaknya, langkah-langkah perbaikan.

Di Pittsburgh, pemimpin-pemimpin G-20 mengompromikan untuk “mengelola keterbukaan dan langkah ke depan program lingkungan dan pertumbuhan berkelanjutan”. Ada kepatutan kita untuk senang, sedikit kelegaan. Meski nampaknya terlalu dini untuk memperkirakan langkah yang segera di kemudian hari: janji belum “disegel”.

Kekhawatiran telah meluas. Ian H. Rowlands dalam artikel The International Politics of Global Enviromental Change belasan tahun lalu menyoal isu perubahan lingkungan —tentang penipisan lapisan ozon dan pemanasan global. Ia, dengan berderet paparan historis, mengurai usaha manusia untuk menyelamatkan bumi, secepatnya.

Ilmuwan mulai terlibat dalam politik internasional, meski “penggerak” —dalam hal ini kekuasaan ada di tangan negara— adalah tak kalah penting dibanding “suara-suara” gelisah para ilmuwan: kita makin hidup di bawah terik dan ancaman permukaan laut yang meninggi. Perlu ada jalan keluar, perlu ada gerakan dalam politik internasional.

Mungkinkah ini efek globalisasi? Dalam era ini, bahkan semenjak isu perubahan lingkungan menjadi isu internasional pada 1970-1980-an, globalisasi bisa menjadi pusat kritik lain. Noam Chomsky mengemukakan :

“Globalisasi yang tidak memprioritaskan hak-hak rakyat sangat mungkin merosot terjerembab ke dalam bentuk tirani, yang dapat bersifat oligarkis dan oligopolistik. Globalisasi semacam itu didasarkan atas konsentrasi kekuasaan gabungan negara dan swasta yang secara umum tidak bertanggung jawab pada publik.” (Globalization that does not prioritize the right of people will very likely degenerate into a form of tyranny, perhaps oligarchic and oligopolistic, based on concentration of tighly-largely unaccountable to the public)

Chomsky, dengan begitu, sebenarnya tak menyalahkan globalisasi. Ia menulis tentang “globalisasi semacam itu”, yang berkategori “tidak memprioritaskan hak-hak rakyat” (that does not prioritize the right of people) dalam kekuasaan. Tentu Chomsky bicara masalah “rakyat” di satu negara. Tapi “rakyat” bisa pula berarti “seluruh penduduk bumi” ketika kita bicara lingkungan global dalam pola-pola industri yang makin liar. Kata “rakyat” menjangkau seluruh yang bisa melarat dan kaya, di bumi.

Akhir 1980-an, dalam Montreal Protocol, diskusi menghangat, antara negara maju dan berkembang tentang hak-hak yang sama. Negara berkembang, diwakili Cina dan India, meminta bantuan agar mereka bisa melaksanakan Montreal Protocol.

Dunia industrilah, mereka berargumen, yang menyebabkan kerusakan lapisan ozon, dan negeri-negeri “Selatan” yang harus membayarnya dengan mahal. Maka negeri-negeri “Selatan” tak ingin membahayakan prospek pengembangan industri level tinggi ke arah penggunaan bahan kimia berbahaya. Negeri maju harus bertindak. Caranya: transfer teknologi dan keuangan dari “Utara” ke “Selatan”.

Pun mungkin memang berat, ketika negara-negara semacam Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Jepang, menolak mengurangi emisi CO2, hasil konferensi di Noordwijk, Belanda, pada 1989. Resistensi ini tentu akan mengurangi produktivitas negara industri maju —selain bahwa upaya implementasi konvensi global untuk perubahan iklim mahal, ditambah dengan kalkulasi adanya resesi.

Tapi dengan ini kita seperti teringat khotbah E.F. Schumater yang dengan rendah hati mengutip Gandhi : bumi cukup persediaan untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi tak akan cukup untuk memenuhi keserakahan kita. Dari Gandhi, dari fakta dan histori paparan Ian, kita tahu yang dinamakan serakah adalah mungkin resisten terhadap usaha bersama, juga tak peduli. Atau kita bisa bilang pasif, yang menindas sebagian di atas yang lain.

Yang sedikit luput dari Ian adalah menjelaskan bagaimana kini para ahli mulai berpikir tentang peralihan dari industri berat ke jasa dan pariwisata.

Di Pittsburgh, seolah-olah, sebagai tuan rumah KTT G-20, Obama menunjuk “sebuah perubahan yang berhasil”. Pittsburgh dulunya merupakan kota pusat industri berat Amerika. Tapi akhir era 1970-an Pittsburgh jatuh. Ribuan pekerja dilepas seperti melepas asap hitam yang selama ini membumbung di langit kota: berat tapi harus.

Pada akhirnya perubahan adalah harus dan harapan tentang solusi seperti harapan hujan di kemarau yang panjang. Keterdesakan kerap menjadikan ide manusia lebih kreatif dan solutif. Di Pittsburgh, industri berat mulai digantikan dengan industri berbasis teknologi, kesehatan, perhotelan, dan jasa keuangan. Mesin penggerak ekonomi yang tak lagi membuat hawa kota memanas pun dijalankan. Pittsburgh berbenah, Pittsburgh berhasil —meski kita sadari itu tak mendadak.

Atau mungkin kini kita mesti  serius menyimak seorang yang berkata, “Saya ingin mengobati bumi”. Boedi Krisnawan Suhargo, seperti yang diberitakan majalah Tempo, membangun proyek kreatif rehabilitasi lahan kritis —gabungan yang selama ini cenderung berlawanan: usaha pengembang dan pelestarian lingkungan.

Secercah harapan lain datang di negeri sendiri. Tapi apa dengan kata-katanya kita masih harus was-was: saya bukan malaikat, saya tak bisa mengobati semuanya?

Lincoln October 19, 2009

Posted by zidan1 in ada yang lain dariku, lubang yang (biasa) tersingkap, mereka, dan mereka, dan aku.
1 comment so far

LINCOLN, presiden Amerika ke-16 yang takdirnya mati tertembak itu, tahu ada yang tak beres di negerinya. Dan ketakberesan yang  menghinggapi pikiran orang besar, biasanya tak main-main: ia berpikir tentang nasib orang banyak.

Dalam Gangs of America, The Rise of Corporate Power and The Disabling Democracy yang terbit tahun 2003 Ted Nace mengutip surat Lincoln kepada William Elkins, sahabat baiknya:

 “sebagai akibat perang, berbagai korporasi telah menjadi seperti raja dan era korupsi di tingkatan tinggi segera mengikuti, dan kekuasaan uang akan berupaya memperpanjang kekuasaannya dengan merugikan kepentingan rakyat sehingga seluruh kekayaan akan terpusat di sejumlah tangan yang terbatas dan Republik menjadi hancur. Saya lebih prihatin pada saat ini lebih dari saat-saat sebelumnya, tentang nasib negeri saya, bahkan di tengah suasana perang. Puji Tuhan, semoga kekhawatiran saya ini salah adanya”

Hari itu mungkin Lincoln sudah tak sabar atas resahnya, sampai ia menulis surat. Ia menulis tentang hubungan korporasi dengan “tangan yang terbatas”. Tentu, “terbatas” di sini tak berarti bahwa kemampuan mereka kecil atau sempit, bahkan sebaliknya. Ke-“terbatas”-an itu menguasai. Ke-“terbatas”-an itu, tulisnya, seolah mampu membuat “Republik menjadi hancur”.

Surat itu, seluruhnya, memang bernada bahwa sesuatu yang mengimpit rakyat akan bangkit dan memegang kendali. Kita tahu, kemudian, kalau Lincoln prihatin “lebih dari saat sebelumnya”, di era ini, yang mana “berburu” dan “kekuasaan” menjadi kata kunci yang tak habis-habis, kita menghadapi berkali-kali lipat keprihatinan itu —atau malah tidak?

●●●

GUBERNUR, walikota, pejabat negara, pengusaha besar, intelektual, atau semacamnya, memang kelompok-kelompok yang dipandang tinggi, atau elit. Segala kita menatapnya, memperhatikan dengan takzim untuk kata-kata yang keluar dari sosok seperti mereka.

Tapi mereka bukan malaikat. Bukan orang per orang yang membuat segala yang tampak perih menjadi mudah. Dan lebih buruk lagi: mereka bisa menjajah rakyat dengan “kemampuan yang di atas rata-rata itu”. Menekan, untuk selanjutnya membuat rakyat celaka. Mungkin dengan korupsi:

“corruption as the abuse of public position for private, individual or group to whom one owes allegiance. It occurs when a public official accepts, solicist, or extorts payments, or when private agents offer a payment to circumvent the law for competitive or personal advantage.” (dalam GOPAC Handbook on Controlling Corruption; Startegy Brief – 2: Understanding Corruption)

Dalam hal korupsi, seseorang dengan “kemampuan yang di atas rata-rata”  membawa kuasanya untuk beberapa orang lain. “Keuntungan kompetitif” dan “keuntungan pribadi” dipuja. Apa yang disebut dengan “kesetiaan” dalam definisi korupsi menjadi kabur maknanya. Ia tak lagi suci, mulia, dan mencirikan suatu kebaikan. Dan ia, dengan mengacu pada “penyalahgunaan kekuasaan publik”,  hadir dalam bentuk yang semakin luas menjangkau : developmentalisme —suatu kemistri ideologis, seperti yang pernah dikemukakan Dawam Rahardjo, antara kepentingan negara industri maju dan kepentingan elit politik negara di “Dunia Ketiga”.

Motif developmentalisme mungkin terlihat sempurna: ia membendung komunisme sebagai pilihan pembangunan negara-negara di Dunia Ketiga dengan asumsi bahwa komunisme menyuburkan kemiskinan. Kemudian muncul nasionalisme ekonomi —nasionalisme ini merugikan industri negara-negara maju.

Maka teori pembangunan internasional —yang berpotensi mengadakan dukungan kepada elit politik “Dunia Ketiga” ke jenjang kekuasaan— diajukan, dan berkibar. Keran kesempatan asing untuk bermodal di “Dunia Ketiga” terbuka. Elit-elit berkuasa merapatkan diri dalam “kesepakatan-kesepakatan” yang dipenuhi profit-profit buat diri pribadi.

Rakyat dibuat tak tahu-menahu. Yang rakyat tahu adalah bahwa mereka mandiri, bahwa nasionalisme baru yang tak hanya pada tataran ideologi tengah dibangun, entah dari mana modal pemerintah untuk membangun. Di Indonesia, pada masa Orde Baru, developmentalisme seperti ini dengan cukup “solid” dihimpun oleh koalisi militer-intelektual-pengusaha, baik dalam negeri maupun dengan pihak asing.

 ●●●

JOHN Perkins, seorang mantan economic hit man, membaca ekonomi dunia abad 21. Ia menganalisis, dan entah bagaimana, suatu istilah bertengger di pikirannya: korporatokrasi. Sebenarnya ia tak yakin apakah pernah mendengar sebelumnya. Tetapi, katanya, “it seemed to describe perfectly the new elite who had make up their minds to attempt to rule the planet”.

Segera Perkins, dan bukunya, tak disukai. Kemapanan korporatokrasi besar yang dianggap “mendikte kekuasaan” menjadi tak nyaman. Tapi memang pandangan itu cukup menarik dan dibenarkan sejumlah pengamat, terutama di abad di mana ekonomi dan materi disimbolkan sebagai kemajuan daripada moral —hal yang seringkali tercecer dan ditertawakan dengan sinis.

Tapi mungkin moral tak cuma hal. Pesona moral seakan menanjak, meski dengan begitu ia serasa berada di luar jangkauan,. Orang-orang kini melihat usaha menggabungkan kekuatan ekonomi besar bersama moral sebagai utopia. Meski perusahaan-perusahaan memiliki Corporate Social Responbility, ada yang tak terlihat oleh awam: suatu yang bersifat transaksional, namun tanpa fairness. Dengan begitu ia tak bersifat relasional —untuk mendefinisikan keuntungan yang sama dan pembagian yang adil.

Mesin kekuasaan yang bernama korporatokrasi pada akhirnya masih dalam tahapan belum bisa diruntuhkan sepenuhnya. Manipulasi undang-undang antara negara dan korporasi-korporasi besar terlanjur erat mengikat. Himpunan militer-intelektual-pengusaha masih mengungkung “Dunia Ketiga”. Terutama kepentingan akan minyak di Timur Tengah oleh Amerika. Dukungan material terhadap kekuasaan elit “Dunia Ketiga” masih belum lepas dari pihak-pihak “luar” dalam lingkaran korporatokrasi. Struktur ini berkait erat akibat developmentalisme yang selama ini berjalan cukup “tertib”. Developmentalisme, dengan kata lain, melahirkan fenomena korporatokrasi yang susah buat rakyat.

●●●

GADIS kecil itu berada di rumah saya, menginap, mungkin sebulan sekali. Ibu yang selalu mengajaknya. Ia adalah adik sepupu bagi saya.

Kedua orangtuanya bekerja serabutan selama beberapa tahun, dengan gaji yang selalu tak cukup untuk satu bulan kehidupan, dan merupakan suatu sampel dari satu setengah milyar orang penduduk dunia yang hidup dengan kurang dari satu dolar perhari.

Dengan begitu saya tahu alasan ibu selalu mengajaknya: dalam anggapan kami, sebuah keluarga kelas menengah, gadis itu tak terlampau bahagia bersama kedua orangtunya. Mungkin ia tak tertekan oleh pengalaman, tapi hidupnya pahit. Tubuhnya kurus karena tak cukup makan. Di rumah kami ia cukup leluasa untuk makan enak –bahkan meski hanya ayam goreng, makanan yang bagi ukurannya terlihat cukup “mewah”.

Sang gadis kecil memang masih bisa tersenyum. Mungkin karena ia tak tahu pembangunan ala kapitalisme —yang memperlihatkan fenomena korporatokrasi— yang membikin rakyat sengsara. Mungkin karena itu ia belum keras kepada pemerintah hingga percaya seperti Stone kalau: all government are run by liars and nothing they say should be believed. Dan kita bisa bilang: tak mengherankan.

Tapi niat ibu saya melalui gadis kecil itu, atau kisah-kisah yang mungkin serupa, membuktikan kerendah-hatian masih ada, meski mereka kecil-kecil dan tersebar. Meski mereka tak sebesar korporatokrasi. Barangkali beberapa orang kini masih ingin berkata, tentang “kekayaan yang terpusat” dan “terbatas”, setelah ini semua, seperti surat Lincoln yang cemas, “Semoga kekhawatiran ini salah adanya…”

Radikalisme October 19, 2009

Posted by zidan1 in lubang yang (biasa) tersingkap, resensi-resensi.
add a comment

13 Oktober 2009, siang hari: seseorang seperti pesepakbola Maradona, berkemeja merah, berkacamata hitam menarik, putih, agak gemuk, tapi tegap dan berwajah yakin, datang mengisi kuliah saya. Ia datang dari Singapura beberapa hari sebelumnya —seorang dosen National University of Singapore: Vedi R. Hadiz.

“Nonsens…”, katanya memulai kuliah, tanpa ragu, “…radikalisme muncul bukan karena jaringan terorisme, karena Al-Qaeda, atau masuknya ideologi Wahhabi. Apalagi, seperti kata salah seorang kawan saya,  Talibanisme”.

Saya sedikit terpaku. Berpikir keras. Menanti kata-kata lanjutan.

“Bagi saya itu nonsens…”, kata sang dosen dengan ekspresi wajah: bicara apa sih mereka. Tapi ia meneruskan, dengan sesuatu yang menarik di balik kalimatnya ini, “untuk mengetahuinya kita harus mengerti konteks sosial di mana Islam muncul.”

“Meskipun, secara simplistis, Asia Tenggara adalah model Islam moderat, dan Timur Tengah bergerak lebih radikal, tapi tak selamanya segala sesuatunya harus berjalan menurut apa yang umum. Yang radikal, selalu ada di kumpulan para moderat, begitu sebaliknya di Timur Tengah.”

Ia pun mengajukan tanya kepada majelis kelas: mengapa kemunculan radikalisme Islam di Indonesia baru muncul pada 1990-an, bukan pada era-era sebelumnya?

Vedi Hadiz pertama menyinggung Sarekat Islam sebagai organisasi massa modern dan krusial dalam mengembangkan nasionalisme Indonesia. Lalu Partai Komunis Indonesia didirikan tak lama setelah itu. Adanya kedua organisasi ini berlatar belakang kepentingan material—pertentangan secara ideologi ini pertama berasal dari saudagar dan elit-elit desa demi mempertahankan properti mereka. Dan keduanya, yang muncul di Hindia Timur waktu itu, selain itu merupakan “respon” atas pemerintahan kolonial.

Dengan ini  kedua organisasi terinspirasi kolonialisme, yang dalam kata-kata Vedi Hadiz adalah ”kapitalisme yang dicangkokkan di Indonesia”: mereka melawan, mereka tak sepakat, harus ada gerakan tak setuju. Bahkan kemudian suatu gagasan penggabungan Islam dan komunis tumbuh —didasarkan kesamaan asas penentangan terhadap kapitalisme, di bawah Haji Misbach di Jawa dan Haji Datuk Batuah di Sumatra Barat.

Dalam artikel The Post-Cold War Political Topography of the Middle East: Prospect for Democracy, yang ditulis Halperin tahun 2005, seperti dikutip Vedi Hadiz, turut memperlihatkan suasana yang kurang lebih sama, ketika gerakan sayap Kiri mucul di Timur Tengah akibat penindasan oleh elit lokal yang pro-penjajah Inggris dan Prancis.

Setelah Islam dan komunis menjadi kekuatan melawan kolonialisme Belanda, pada pertengahan 1960-an, terjadi perubahan peta politik. Komunis runtuh, negara dan militer memiliki kekuasaan luar biasa, dan Islam pun berposisi sebagai pendukung negara. Tentu, “pendukung” ini, yang diharapkan akan setara dengan “partner” kemudian malah berubah jadi “alat” —dengan mengambil contoh Komando Jihad yang diduga disponsori Ali Murtopo, salah seorang tangan kanan Soeharto.

Secara singkat, monopoli yang diharapkan akan jatuh ke pihak Islam tak terjadi. Setelah komunisme, bagi negara dan militer, Islam adalah ancaman selanjutnya. Bagaimana pun stabilitas bagi aparat negara adalah segalanya —dan inilah yang terulang seperti pemerintahan Aljazair dan Tunisia pada tahun 1980-an, dan Mesir di bawah Nasser pada tahun 1970-an terhadap Ikhwanul Muslimin: kekuatan Islam diberangus.

Buruh (mewakili Leftist), intelektual (social-democratic), dan kaum pedagang (liberal) —ketiganya dari waktu ke waktu saling beradu dengan pemerintah Orde Baru. Ketiganya memang kemudian termarginalisasi, dengan sedikit kaum pedagang mendapat tempat akibat dipakainya sistem kapitalisme. Tapi negara tetaplah yang terkuat.

Orde Baru kemudian hanyalah kuasa satu pihak. Dan kita seakan melihat versi lain Mao di Cina. Di negeri tirai bambu itu Mao sadar Partai Komunis Cina terlalu berkuasa. RRC yang tak kenal oposisi dan pers bebas mengalami kemandekan dan korup —selain kestabilan dan sejumput “kesunyian” kelas bawah. Penyelewengan marak. Namun Mao sudah terlanjur membungkam segala yang bertentangan dengannya. Tapi mungkin juga tidak, di kemudian hari: “Pengawal Merah” dibentuk, dan suara ketidakpuasan terhadap pemerintah meluap.

Pada akhirnya pembungkaman bisa jadi menghasilkan suara amarah yang dahsyat, dengan kobaran yang tak selalu bisa ditenangkan kembali. Begitu pula Orde Baru. Dengan ini Vedi Hadiz melihat kekuasaan autoritarian Orde Baru sebagai penyebab munculnya radikalisme. Dengan kata-kata darinya dalam artikel Toward a Sociological Understanding of Islamic Radicalism in Indonesia, radikalisme Islam di Indonesia adalah “the product of the long phase of authoritarian capitalist development under New Order rule”.

Sebuah siklus seperti berulang. Radikalisme saat ini mirip suatu amarah ketika Islam dan komunis merespon kolonialisme Belanda. Yang mereka, kaum radikalisme itu mau, mungkin hanya supaya noda di pemerintahan sirna, keinginan akan suatu keadaan yang lebih baik dengan cara yang frontal. Atau dengan bom adalah suara alarm pengingat kesadaran untuk para elit di zaman yang rusak.

Tapi dengan penjelasan itu pengaruh globalisasi dinafikan. Bahkan Vedi Hadiz menyingkirkan gagasan Huntingtonian tentang benturan peradaban. Penyebab seperti impian revolusi Islam di Iran di bawah Shari’ati, atau pengaruh pemikiran Sayyid Qutb dari Timur Tengah, seperti yang disinggung Martin van Bruinessen dalam Genealogies of Islamic radicalism in Post-Soeharto Indonesia, sama sekali tidak diperhitungkan. Atau hal-hal seperti itu mungkin hanya ‘pemicu’ tambahan untuk emosi yang mapan?

Barangkali Vedi Hadiz adalah seorang yang membidik: ia mengharuskan dirinya menyempitkan pandang. Sejarah bisa dibaca berbeda menurut tafsir masing-masing. Vedi Hadiz hanyalah “salah satu”.  Zaman, toh, memang terkadang rumit —selain tak seramah saat beliau memberikan kuliah tempo hari.

Rechtsstaat October 14, 2009

Posted by zidan1 in lubang yang (biasa) tersingkap, resensi-resensi.
add a comment

Tulisan yang terbit tahun 1983 itu,  Old State New Society : Indonesian’s New Order in Comparative Historical Perspective, oleh Benedict Anderson, memaparkan conflation antara yang old dan new pada suatu yang dinamakan negara —lebih spesifik lagi: negara Indonesia.

Sedangkan di belahan bumi lain, di tahun yang berlainan, 1996, seorang diplomat Amerika menawarkan —atau berbagi— kehati-hatian tentang orang-orang “rasis, fasis, separatis, yang secara terbuka menentang perdamaian dan penyatuan kembali” yang terpilih dengan pemilu yang “dinyatakan bebas dan adil”.

Richard Holbrooke, diplomat itu, agaknya memiliki kekhawatiran yang muncul seperti siklus klise sebuah pengalaman. Pengamat-pengamat demokrasi pada waktu itu memang sedang awas dengan kebangkitan demokrasi yang tak liberal di berbagai belahan dunia.

Di sini terdapat situasi yang terhubung, setidaknya, mengenai Orde Baru yang dipaparkan Anderson dan kekhawatiran Holbrooke terhadap demokrasi tak liberal.

Demokrasi —sesuatu yang tak hanya, untuk memakai kata-kata Henry B. Mayo dalam An Introduction to Democracy Theory yang terbit setengah abad lalu, menentukan “kebijaksanaan umum atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat” , tetapi juga adanya “suasana terjaminnya kebebasan politik”. Dari Mayo kita tahu “suasana” (condition) yang dibangun demokrasi tak hanya berada pada permukaan. Ia mengharuskan suatu “kebebasan” yang turun dan meluas, pada suasana yang paling asasi.

Oleh karena itulah kemudian muncul negara-negara Rechtsstaat, yang berusaha membatasi kekuasaan pemerintah melalui konstitusi. Dalam Rechtsstaat berlakulah semboyan: government by laws, not by men. Carl J. Friedrich, penulis Constitutional Government and Democracy : Theory and Practice in Europe and America, mengurai suatu ide “pembatasan” berbentuk konstitusi untuk mencegah “mereka yang mendapat tugas untuk memerintah” untuk tak menindas rakyat, menyalahgunakan kekuasaannya.

Tapi sejak beberapa dekade lalu ada bayang-bayang di mana kata “tindas” bermakna tak berasa, selain tak berdaya. Rakyat seakan bersedia ditindas, atau mereka tak tahu harus berbuat apa bila faktanya bahwa konstitusi itu sendiri tak berpihak pada mereka. Suara perwakilan adalah getaran di ruang hampa. Rakyat mengawasi, menyampaikan, tapi telah ditipu. Dan negara, tak terlepas dari sikap “wakil-wakil”, seperti menyerusukkan dirinya ke dalam legitimasi yang rendah di hadapan rakyat demi memperkuat kepentingan lembaga.

Ini mungkin membuktikan sesuatu yang old dalam tulisan Anderson. Negara, tulisnya, tak didefinisikan sebagai sebuah badan kumpulan orang (“birokrasi”). Ia harus diartikan sebagai sebuah lembaga yang dalam proses hidupnya “menyerap, membina, dan menendang personalia, seringkali dalam waktu yang panjang”.

Maka, ia, “lembaga-modern”, seperti variasi pembedaan daya-imajinasi Alers dalam Um een rode of groene Merdeka: Tien Jaren Binnelangse Politiek: Indonesia 1943-1953, akan menjalankan sebuah kebijaksanaan yang merupakan sebuah panduan yang berubah-ubah dari dua jenis kepentingan umum, yaitu “kepentingan negara” –sebagai suatu yang sifatnya “representatif”- dan “kepentingan bangsa” –sebagai suatu yang sifatnya “partisipatoris”. Dengan kata lain, yang old adalah “baju” Orde Baru: mereka memakai paham kolonial dengan mengebiri kepentingan “partisipatoris”, menindas rakyat demi “kepentingan negara”. 

Barangkali tak bisa dilepaskan bahwa Orde Baru berkuasa sebagai sebuah rezim sendiri. Ia tak tampak muncul dalam keadaan darurat, yang menyebabkannya mesti kembali pada sistem Orde Lama. Ia, meminjam klasifikasi Nordlinger, disebut “tipe pemerintahan Pretorian” di mana masa depan rezim “tak akan  berubah”, dengan “kesinambungan atau pelestarian kuasa” yang absah.  Mungkin saat itu keadaan memang genting, tapi Orde Baru lahir dengan keperkasaan (“bak” atau “memang”?) pahlawan dengan latar belakang militer: membersihkan unsur-unsur PKI dan pendukung nasionalis-radikal Soekarnois.

Dengan posisi kuasa seperti itu aparat negara menguatkan diri. Entah terperdaya, atau terlena dengan kekuasaan, secara pasti dunia saat itu telah mengenal pandangan realis —juga Orde Baru. Orde Baru tumbuh dengan “stabil’ dan “mencengkeram” di segala lini kehidupan masyarakat. Pegawai pemerintahan yang tak memilih Golkar, sebagai mesin rezim berkuasa dalam pemilu, harus bersiap diberhentikan dari tugasnya. Was-was Holbrooke pun relevan, meski tak sepersis yang ada dalam benaknya, mungkin.

Tapi tampilan Reformasi yang sekarang juga dinilai tak terlalu baik. Kita melihat dengan muram, susah, atau bingung, mengenai pandangan ke depan tentang tujuan dari re- yang dimaksud. Hal-hal sesungguhnya patut disyukuri: zaman ini militer tak dominan, tapi penguasa seperti Soekarno dengan ke-otoriteran-nya saat-saat akhir kisahnya sebagai presiden juga tak ada.

Mungkin ini “baju baru”. Tapi bukankah kita seharusnya bahagia dengan “baju baru”? Atau dengan ramalan bahwa akan ada mayoritas yang sangat kuat di parlemen, apakah kita akan melihat “baju lama” Orde Baru jilid II? Saya terkenang ucapan seseorang bernama Gulem: it was filthy, but it was our only hope.

Kapitalisme October 5, 2009

Posted by zidan1 in lubang yang (biasa) tersingkap, mungkin akan datang.
add a comment

Orang-orang dengan sadar menyelidik dan agak ringan berkata: sosialisme kini tak ada kabarnya.

Zaman ini dipandang seolah hanya pada satu arah: demokrasi dan kapitalisme. Dan yang lain terlihat mengangkat bahu, mungkin dengan sunggingan senyum tipis, dan isyarat kedua tangan mengembang: apa boleh buat. Mayoritas umat manusia nampaknya ingin dunia berjalan dengan demokratisasi di mana-mana.

Mereka berdua –demokrasi dan kapitalisme- itu agaknya semakin tidak terpisahkan. Kapitalisme yang memacu pertumbuhan ekonomi, dan demokrasi yang berperan sebagai kontrol kekuasaan bagi negara agar tak menyeleweng, memikat aktor-aktor internasional, dalam politik maupun ekonomi internasional. Negara dipersempit akses dengan sekedar menjadi penjaga garis urusan-urusan.

Dan demokrasi, bersama kapitalisme, secara perlahan menjadi suatu paham yang seolah-olah “harus” mendunia. Ketika sebuah negara tak memakai demokrasi dan kapitalisme kita seakan-akan –dibuat atau tak dibuat, sadar atau tidak sadar- mafhum kalau dunia tak meliriknya dengan lirikan bernada hormat –dengan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia melekat padanya.

●●●

Demokrasi, bisa seperti kata Fareed Zakaria, redaktur majalah Newsweek itu, adalah “piranti cantik modernitas”.

Kedatangannya di “Dunia Ketiga” pun seolah seperti ditemukannya suatu obat mujarab: demokrasi diharapkan menjadi solusi permasalahan bangsa. Tentu, setelah beberapa dekade kita tahu, saat ini harapan itu kemudian terlalu tinggi.

Dalam Comparative Politics Today, A World View (ninth edition), dijelaskan sebuah proses pembuatan kebijakan:

Interest articulation involves individualism and group expressing their needs and demands.

Interest aggregation combines different demands into policy proposals backed by siginificant political resources.

Policymaking decides which policy proposals are to become authoritarian rules.

Policy implementation carries out and enforce public policies; policy adjudication settles disputes about their applications.

Yang tersusun dalam proses tersebut memang kemudian tak bisa dipisahkan dengan sistem demokrasi. Artikulasi-artikulasi –suatu suara bebas dari orang per orang- hanya mungkin mendapatkan tempatnya melalui “proses” atau “sistem” yang menjamin suasana tersebut. Dengan kata lain, ocehan-ocehan rakyat tak boleh dibungkam, ia malahan mesti diberikan fasilitas secara konstitusional. Ia, suara-suara para demos tersebut, diharapkan menjadi motor pembangunan bagi negara.

Interest aggregation pada tahap kedua menimbulkan desakan secara formal atau resmi bagi pembuatan kebijakan suatu pemerintahan, meski tak selalu diimplementasikan. Tapi yang jelas adalah bahwa suara-suara rakyat tersebut menuju ke arah policymaking. Aliran ini, bagi sebuah sistem, adalah sesuatu yang sangat mendasar harus ada. Hak-hak individu, asas-asas kemerdekaan berpendapat, merupakan syarat untuk demokrasi liberal.

●●●

Rezim ekonomi yang cocok dengan demokrasi, juga dengan kebebasan individu, adalah rezim pasar. Demokrasi dalam hubungan internasional memunculkan kapitalisme melalui paham kebebasan individu. Dan di sini kapitalisme menunjukkan bahwa penindasan tidak hanya terjadi dalam kekuasaan politik yang otoriter.

Penindasan di pasar bebas, yang tanpa campur tangan pemerintah itu, terjadi karena kekuatan yang tidak adil. Hak-hak sama, tapi tanpa kekuatan yang berimbang, pasar bebas hanya nampak bertujuan untuk menggusur pihak yang lebih lemah. Seorang pengusaha kaya, punya akses ke para pejabat tinggi negara, jelas tak bisa dikatakan adil jika ia berhadapan dengan buruh yang miskin dalam perdagangan.

Sebagian orang pun bertanya resah : mungkinkah meminta pasar untuk bersikap adil?

Pemenang hadial Nobel, F. A. Hayek, menjawab: tidak mungkin. Ia secara terbuka mengakui bahwa sebuah masyarakat yang berbasis pasar bebas akan menciptakan kesempatan-kesempatan yang tidak adil dan tidak pada tempatnya.

Perusahaan-perusahaan raksasa, perusahaan-prusahaan multinasional menguasai pasar. Lalu yang terjadi adalah kapitalisme korporasi dan pasar, seperti kata Hayek, “tidak melihat adanya kebutuhan untuk membela kepentingan-kepentingan usaha kecil dan para konsumen”.

Untuk itu, kita kemudian memang harus berhati-hati karena adanya dua tujuan berbeda antara pihak-pihak yang menuntut atau pro-demokratisasi. Tuntutan demokrasi bagi kelas bawah disebabkan mereka tergusur, diperdaya untuk tetap tak berdaya, menjadi lelucon kekuatan ekonomi yang dikuasai pengusaha dan negara. Karena itu, mereka ingin bebas dari jeratan-jeratan kekuatan gabungan dua pihak tersebut.

Demokrasi untuk kelas menengah berarti bahwa mereka ingin persaingan bebas. Joseph Schumpeter dalam Capitalism, Socialism, and Democracy menuliskan :

“skema hal-ihwal [kaum] borjuis membatasi wilayah politik dengan membatasi wilayah otoritas publik; pemecahannya ada dalam  ideal negara yang ramping yang hadir terutama untuk menjamin legalitas borjuis dan memberikan kerangka yang kuat bagi usaha individu yang otonom di semua bidang.”

Kaum borjuis (beberapa pengamat menyebutnya kelas menengah) menganggap demokratisasi penting untuk mencegah campur tangan negara. Mereka ingin bersaing secara bebas. Tapi dengan ini kelas menengah ke bawah akan bisa dieksploitasi. Peran negara harus hadir di sini untuk mencegah eksploitasi –dan tentu saja kita berbicara eksploitasi dalam hubungannya dengan hak asasi manusia.

Toh dengan adanya kapitalisme pertumbuhan ekonomi tidak hadir dengan pengentasan kemiskinan dan pengangguran. John Perkins dalam The Economic Hit Man mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi bisa terjadi “walaupun hanya menguntungkan satu orang saja, yaitu yang memiliki perusahaan jasa publik, dengan membebani utang yang sangat berat buat rakyatnya”. Statistik kemajuan ekonomi, tambah Perkins, terjadi dalam kondisi “yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin”.

Di sini kita terhimpit dalam dua ekstrim : sikap tak suka pada negara untuk ikut campur, dan sikap mengundang negara (dalam demokrasi dan kapitalisme) untuk melindungai pihak yang lemah.

●●●

Para pengamat, dengan mempertimbangkan sejarah, meyimpulkan pengalaman tidak enak untuk kebebasan individual berasal dari absolutisme monarki, dogma-dogma agama, teror pemerintahan diktator, serta tangan besi totaliterisme. Pemimpin diktator beserta rezim yang otoriter memang belum tamat –dan kita tak tahu apakah benar mereka akan sepenuhnya tak ada. Tapi setidaknya kita bisa bilang bahwa mereka makin terdengar sayup-sayup di dunia “bebas” ini.

Pada akhirnya kita tak bisa menaruh rasa tidak enak itu pada sisi kediktatoran atau totaliterisme saja. Demokrasi dan kapitalisme memiliki sisi kelam yang tak bisa diingkari –selain dilema-dilema antara kelas bawah-menengah yang membuat wajah merengut.

Tapi pada era globalisasi ini, tak hanya lingkup negara yang diancam dengan sistem demokrasi dan kapitalisme. Morgenthau, pemikir berpaham realis itu melihat dunia saat ini dipenuhi elemen “kekuasaan”. Ia menulis dalam Politics Among Nation yang terbit pertama kali pada tahun 1947:

“Politik internasional, seperti halnya semua politik, adalah perjuangan memperoleh kekuasaan. Apapun tujuan akhir dari politik internasional, tujuan menengahnya adalah kekuasaan. Negarawan-negarawan dan bangsa-bangsa mungkin mengejar tujuan akhir berupa kebebasan, keamanan, kemakmuran, atau kekuasaan itu sendiri. Mereka mungkin mendefinisikan tujuan-tujuan mereka itu dalam pengertian tujuan yang religious, filosofis, ekonomis atau sosial. Mereka mungkin berharap bahwa tujuan ini akan terwujud melalui perkembangan alamiah urusan kemanusiaan. Tetapi begitu mereka berusaha mencapai tujuan-tujuan mereka dengan menggunakan politik internasional, mereka melakukannya dengan berupaya memperoleh kekuasaan”

Dari sini kita melihat kapitalisme internasional yang mengancam untuk sebuah “keadilan”, lebih dari “persamaan hak-hak asasi”. Korporasi internasional yang berkembang sejalan dengan liberalisme –dan kita bisa menggolongkannya sebagai kelas menengah ke atas- menginginkan “kekuasaan” dalam negara-negara yang didatanginya. Perekonomian nasional pun tak sanggup bersaing dengan perusahaan-perusahaan multinasional tersebut.

Barangkali salah satu dari kita harus menilik ke belakang, ke masa-masa Yunano Kuno berabad-abad silam.  Ketika seorang buruk rupa yang setia pada kemerdekaan berpikir dan menyatakan pendapat, Socrates, justru mendapatkan nonsens dalam “demokrasi”. Gairah, atau passion, pada akhirnya mesti dimiliki bersama untuk menuju “demokrasi” (baik politik maupun ekonomi) bagi semua pihak.

Nasib, tak pernah bisa ditentukan sendiri.

Aria September 29, 2009

Posted by zidan1 in resensi-resensi.
add a comment

Namanya –dalam film Eagle Eye garapan sutradara Caruso itu- Jerry Shaw. Ia, aktor tampan yang sukses dalam film Disturbia, Shia Labeouf. Jerry sebenarnya hanya seorang pegawai fotokopi –dan sedikit pandai berjudi kecil-kecilan. Tapi kematian saudaranya yang misterius membuat dunianya jadi lain: ia hidup memburu dan diburu karena dituduh sebagai teroris.

Ia diburu FBI, dan polisi, lalu ia lari. Terseok-seok, meninggalkan kontrakan, penuh resiko, tapi dengan arah yang jelas sekaligus tegang: suara seorang wanita tak dikenal meneleponnya dan memberitahu segala jalan untuk lolos dari berbagai ancaman.

Tapi dengan itu ancaman terus saja muncul dan tak mau stop: Jerry, bersama seorang ibu yang anaknya diculik secara misterius pula, Rachel Holloman, berpindah dari satu ancaman mati ke ancaman mati lainnya, dengan tak tahu ujungnya akan seperti apa. Mereka tak bisa lolos atau bertindak di luar kendali sang wanita misterius. Seperti ada mata elang yang memata-matai seluruh gerak-gerik keduanya dan mereka berdua harus menaati segala perintah karena hanya dengan begitu kekhawatiran akan kematian tak begitu mencengkeram.

Toh, mereka dari scene ke scene mulai berpikir rasional untuk menurut : ancaman kematian seseorang-yang-seperti-mereka yang tak menurut dilihat dengan kepala mata sendiri ketika seorang keturunan Arab tak mau meneruskan perintah mati terkena listrik di suatu pembangkit.

Pada akhirnya mereka mengenal asal suara wanita itu : Aria –suatu proyek pemerintah Amerika Serikat yang digunakan untuk tetap menjalankan sistem pemerintahan bahkan ketika tak ada presiden. Dan Jerry menjadi tahu segalanya : kematian Ethan Shaw, saudara kembarnya, adalah karena Ethan mencoba menghentikan ketidakberesan program Aria.

Di sinilah, ketika pertemuannya dengan Aria, ia dihadapkan pada kenyataan menyesakkan ketika Aria, yang ‘hanya’ mesin itu bersabda : Jeery Shaw harus dihilangkan. Aria beralasan semua yang diperbuatnya selama ini adalah demi ‘keamanan nasional’.

Aria pun mengungkapkan dengan inti : perubahan rezim mesti dilaksanakan. Ia kemudian merancang pembunuhan presiden Amerika Serikat. Dengan memakai alat seperti Jerry Shaw dan Rachel Holloman, serta anaknya, pembunuhan Presiden dilaksanakan dengan heksametilen, peledak kristal yang peledakannya dipicu suara.

Haruskah sebuah alat atau mesin, dengan data-data, dibenarkan menentukan nasib sebuah negara dan orang-orang di dalamnya?

Tentu jawabannya : tidak. Bukan karena film ini membuat kita bersimpati pada Jerry, atau Morgan yang mengorbankan dirinya untuk presiden. Tapi kita tahu bahwa memori pada sebuah mesin tak mengandung maknanya yang tepat. Ia bisa menerjemahkan secara salah, atau dengan persepsi yang keliru mengenai “usaha-usaha demi keamanan nasional”. Dan hal itupun terjadi : Aria membahayakan warga negara yang seharusnya dilindunginya.

Dengan ini saya tak mengatakan bahwa manusia memiliki kebenaran mutlak. Bahkan manusia lebih sering tak bisa diatur, liar, seakan-akan tak punya perasaan dan akal yang membuatnya menjadi makhluk mahajahat adalah bukan hal baru dan ganjil. Perang Dunia memperlihatkan ambisi manusia yang menindas dengan aksen ‘menghabisi’ yang dibenarkan keyakinan masing-masing.

Setidaknya manusia mampu membedakan antara ‘wants’ dan ’needs’ dalam arena konflik. Dan ‘wants’, kita tahu, tak selalu dengan kapasitas yang tepat menunjukkan sebuah ‘needs’ sebagai sesuatu yang inti. Dalam dua ‘wants’ kadang ada perbedaan yang saling menentang. Dan dua ‘needs’’ membantu menentukan ‘limits’ untuk alternatif yang sesuai. Itulah yang kemudian terjadi, ketika proyek Aria, sebagai suatu ‘wants’, dapat ditiadakan tanpa menggusur suatu ‘needs’-suatu tujuan demi keamanan nasional.

Tapi benarkah di balik Aria itu sebenarnya sempat tercetus latar belakang kekhawatiran akan suatu assassination?

14 April 1865, Lincoln ditembak ketika tengah menonton sebuah pertunjukan di Ford Theater, Washington DC. John Fitzgerald Kennedy, presiden ke-35 AS, ditembak sniper saat berpawai di dealey plaza, Dallas, Texas pada 22 November 1963. Itu hanya dua kejadian yang mewakili beberapa penembakan atas presiden. Peristiwa 11 September merupakan peristiwa yang tak terlupakan lainnya. Tapi agaknya kita, entah dengan sedikit ragu atau tidak, sama-sama berpikir tentang konspirasi Yahudi atau alasan kebencian suatu pihak pada Amerika.

Fareed Zakaria, redaktur majalah Newsweek, pada delapan tahun lalu menulis dalam sebuah kolom tentang kebencian kepada Amerika yang memunculkan fundamentalisme dan sikap anti-Amerika. Meski hadir dengan “glamor”, “modernitas yang berkilau”, dengan status yang “lebih kaya, lebih kuat, dan lebih menarik” ketika muncul pada Perang Dunia II, Amerika telah terlanjur mengecewakan.

Seorang intelektual Arab senior dengan gagah dan simpatik menyebut kota-kota di Singapura. Hongkong, dan Seoul sebagai “tiruan murahan dari Houston dan Dallas” dan mereka, kaum Arab itu, dengan harga diri “pewaris salah satu peradaban besar dunia”, tak mau menjadi “daerah kumuhnya Barat”.

Yang diyakini Fareed adalah tak adanya “semangat masyarakat modern” dalam globalisasi yang terjadi di Timur Tengah selain kedatangan Cadillac, McDonald’s serta makanan siap saji dan minuman soda. Tak ada pasar bebas, partai politik, pertanggungjawaban, dan undang-undang yang mencirikan “semangat masyarakat modern”. Di sini Fareed melihat adanya globalisasi yang tak boleh disentuh, dengan “kleptokrasi yang memuakkan dan korup”. Menjadikan penindasan rakyat atas kekayaan raja-raja dan pangeran. Hal itu berefek pada bangkitnya gairah fundamentalis yang menyebar bukan hanya di Timur Tengah, atas nama ketidakpuasan kepada kegagalan total dari lembaga-lembaga politik yang mengindahkan penyelewengan rezim. Dan kaum fundamentalis itulah, menurut Fareed, dan mungkin kebanyakan analis, sebagai tersangka kasus terorisme.

Dan peneror, balik akan diburu dan dihukum. Tak beruntungnya, Aria yang seakan tahu segalanya itu tak semata rekaan. Aria, seperti diceritakan Shia LeBeouf, memiliki suatu yang khas CIA. Agen CIA, yang bergerak seperti Aria itu menakutkan sang aktor, Shia LeBeouf, “Hal yang menakutkan adalah duduk bersama dengan para petugas CIA, yang menggunakan semua ini.”

Dengan ini teror akan dilawan dengan teror. Fareed Zakaria menulis pada 2001, dan Eagle Eye diproduksi tahun 2008, tapi agaknya keduanya menceritakan hal yang bersahabat dengan zaman ke zaman untuk sebuah pelajaran tentang dibenci-membenci, diawasi-mengawasi, dan diburu-memburu.

Untuk tak terlibat, pangggillah kematian.

Nol September 10, 2009

Posted by zidan1 in ada yang lain dariku, mereka, dan mereka, dan aku.
add a comment

10 Agustus, Yogyakarta, malam. Bakhtiar menulis surat kepada D, untuk kesekian kalinya:

“Kali ini saya benar-benar tidak mengerti. Atau mengerti, namun dengan separuh ragu seberapa semu-kah semua ini. Semu –ia nampak seperti ada, namun sebenarnya tiada. Tapi saya merasai, D. Nyata. Mungkin yang paling membikin khawatir adalah ada unsur tertipu dalam ke-semu-an itu, kalaupun dia bisa dikatakan nyata, semacam  rasa tak sadar dan tak berdaya sekaligus, akan akhir yang tak tercatat dengan ‘yakin di awal’. Bisa saja yang kami langkahi selama ini hanya setara falasi : ia salah, tetap salah, meski ada kebenaran.”

12 Agustus, datang balasan dari D. Beralamat di Rapid City, South Dakota:

“Nampaknya masalah itu makin berkecamuk di pikiran Anda. Dan saya, seperti biasa, meski tahu betul soalnya, tak lain dihampiri untuk sebatas ikut menalar abstraks. Ada yang ingin Anda katakan lebih jauh?”

14 Agustus, Bakhtiar membalas:

“Ya, keadaannya makin mendekati keinginan, tapi tak dapat diraba. Suatu hampir yang terasa sangat subtil menyusupkan ragu. Oleh karena itu, saat ini saya sedang tak butuh bicara dengan orang-orang parokial.

“Dengan ini boleh saja saya dianggap meminta kepada partisipan, dalam hal ini diri Anda, yang dapat hadir intim ke persoalan tanpa bertele-tele, sebuah empathy, atau saran untuk tindakan yang sebaiknya dilakoni secepatnya.”

18 Agustus, D balik menulis:

“Akan ada perselisihan bila Anda tak segera berbenah. Saya mencoba mendekati masa depan yang sekarang mungkin tidak terlalu kentara, tentang stigma dan heterofobia. Anda tak boleh lupa, heterofobia bisa hadir di tengah ke-Kita-an –intersubyektivitas antara Aku dan Kamu tidak melenyapkan ruang perbedaan- antara mereka dan Anda, sebagai Yang Lain, pihak Yang Kurang Sama. Menurut saya, Anda saat ini merupakan sosok yang cocok untuk menjadi Yang Lain itu, dalam dunia pervers tersendiri.

“Erving Goffman pernah menulis, Bakhtiar, bahwa lambat laun sebuah teori stigma disusun (mungkin sekali dalam masa-masa seperti yang Anda alami), ‘ideologi yang menjelaskan inferioritas Yang Kurang Sama dan yang membuktikan bahaya orang yang distigmatisasi itu’. Seperti seorang penulis bilang, kata-kata, pemikiran, tindakan Anda nanti ‘tidak hanya diabaikan sebagai nonsens, melainkan juga –dalam situasi konflik- dipandang mengancam keutuhan kolektif’. Harap pikirkan baik-baik.”

20 Agustus, dari Bakhtiar:

“Kita umpamakan ini suatu catatan harian, D. Seorang dan seorang lain memilki pilihan untuk membacanya secara berbeda, sebagaimana sebuah teks: ia dapat didekontekstualisasikan dan direkontekstualisasikan kembali.

“Di sini reference-lah yang menentukan hubungan antara teks dengan dunia luar-teks –dalam hal ini kita mengandaikan teks sebagai peran yang kita lakoni, dan luar-teks sebagai penglihatan mereka, orang lain, terhadap yang kita lakoni. Maka, saya dan mereka kini berhadapan dengan reference, yang dalam kasus ini sulit untuk dikesankan sama, rinci, dan obyektif. Saya tak heran kalau stigma –yang salah itu- muncul. Mungkin mereka takut, dengan sedikit gagap. Padahal takut, meminjam Bernand Russel, adalah sumber utama takhayul –sesuatu yang membuat heterofobia akan Yang Lain.

“Lalu, mengenai ide itu saya ingin bicara mengenai locution. Paul Ricoeur dalam Interpretation Theory: Discourse and The Surplus of Meaning Locution menerangkan locution sebagai perantara untuk mencapai sasaran lain. Ia berlangsung, tapi bukan terakhir. Per tahap, yang akan saya perbuat ke depan, adalah semacam per-locution, D.”

21 Agustus, dari South Dakota muncul kata demi kata:

“Bakhtiar, hari-hari ini saya tengah membaca chicklit tentang persahabatan: Bookends, dan Anda dari surat ke surat akhirnya berhasil memperburuk mood membaca saya. Apa yang Anda maksud tentang perumpamaan dari locution ala Ricoeur bukan tanpa resiko. Kalau rencana itu di-putus oleh Tuhan, tak selesai, habislah Anda di akhirat.”

23 Agustus, Bakhtiar menulis:

“Saya bukan komunis, atau bermaksud anti-Tuhan. Anda tahu benar itu. Tapi kita sama tahu semangat zaman bisa me-reinkarnasi dirinya di zaman, tempat, dan diri orang lain. Maka izinkan saya mengutip satu kalimat dari Nietzsche : ‘manusia tidak perlu malu bertindak gila, karena hanya dengan cara itu kita memberi harga yang pantas kepada kebijaksanaan hidup’ (man soll sich seiner Torheiten nicht schamen, sonst hat unsre Weisheit wenig wert, Wie Man wird, Was Man ist, hal. 242).

“Kadang-kadang kita harus setuju dengan Nietzsche.”

25 Agustus, D, seorang yang paling mengerti Bakhtiar itu,  membalas:

“Anda pandai sekali memasukkan kata ‘kadang-kadang’ itu, Bakhtiar. Di sini keyakinan Anda untuk menindak mengingatkan saya pada kalimat Nietzsche yang lain, yang harus pula Anda cermati, dalam Menschliches Allzumenschiles : ‘keyakinan yang berlebih-lebihan adalah musuh yang lebih berbahaya untuk kebenaran’.

“Pada akhirnya, saya tak hendak berkata ‘salah’ secara mutlak. Tiap-tiap tindakan ada harga. Anda tahu pada siapa-siapa harus menebus. Ketika harga kesuraman yang ternyata harus ditebus, ia memaknai akan kealpaan manusia. Saya hanya mengingatkan agar kesuraman –bila nanti ia ada- tak berimbas ke hal-hal lain. Anda tak harus memulai dari awal : Nol.”

27 Agustus, Bakhtiar memberi balasan pendek :

“Manusia memang tak selalu memiliki tujuan yang utuh-padu. Dalam pilihan yang tak hanya satu, dua, bahkan lima tersebut sering terjadi ketidakkoherenan tindakan –dalam istilah Isaiah Berlin, kita “niscaya harus mengobarkan tujuan-tujuan yang lain”. Saya tak membantah ketika Bentham mempertanyakan sebuah kekhilafan dapat terjadi dalam pemilihan sebuah tindakan: formula tunggal tentang kebebasan dan kebenaran –yang diharapkan membawa keharmonisan- sekaligus tidak selalu tersedia di depan mata. Malaikat telah mustahil mengirim wahyu ke bumi. Tapi saran Anda sangat menarik. Tentang ‘Nol’, tampaknya harus saya pikirkan kembali.”

1 September, surat-surat tentang ‘cinta’ diakhiri :

“Bakhtiar, mereka harus tahu ini: ‘sebaik-baik penceritaan realita, ialah dengan alegori, metafora-imaji-imaji yang mengalir seperti mimpi, tak nyata, di luar nyata…tak pernah sampai pada yang nyata’ –dalam Cala Ibi, karangan Nukila Amal, halaman 74.”

D kembali dari South Dakota, 2 September. Esoknya, dengan senyum yang sama manisnya seperti ketika Bakhtiar mengenalnya pertama kali, ia menyapa ramah Bakhtiar dalam kuliah jam ke-dua. D duduk di sampingnya. Dan tanpa menoleh, tiba-tiba D berkata, “Perhatikan klasifikasi Ikle dalam mata kuliah kemarin”.

Magic September 5, 2009

Posted by zidan1 in lubang yang (biasa) tersingkap.
add a comment

Buku itu, lusuh dan berdebu, buatan E.J. Mishan, ekonom kawakan lulusan London School of Economics dan University of Maryland.

Maaf, dalam buku itu saya tak menemukan kepanjangan E dan J yang tertulis di depan nama Mishan barusan. jadi saya tak menulisnya secara lengkap. Saya hanya bisa menuliskan: E.J. Mishan. Selain sudah tampak tua –terbit pertama tahun 1977- , judulnya terkesan serius: The Economic Growth Debate: an Assessment. Tapi baca sedikit kata-kata darinya berikut:

“… A life without at least some hope of love would be almost intolerable. Indeed, the conviction that one has been cheated of love can lead to bitterness, to vindictiveness, to ruthlessness, to sadism and to crime …”

Apa yang dibicarakannya? Ya, cinta. Bukankah Mishan seharusnya berbicara ekonomi? Anda mungkin kemudian bertanya seperti mengucap sebuah judul film Indonesia yang (sebagian besar) ber-setting Paris itu: ada apa dengan cinta, Bung.

Mishan memang panjang lebar bicara ekonomi. Mengawali esai-esainya, ia menyinggung artikel Richard Easterlin (1973) tentang “Does money buy happiness?”. Dan secara tentatif disimpulkan bahwa “in cross-country comparisons there was no clear relationship between average per capita income and the degree of happiness”.

Derajat bahagia dengan ini mencampakkan nilai-nilai serba ‘me-limpah’ ekonomi. Mungkin lantaran dalam ‘ekonomi’ kental dengan persaingan, atau kompetisi yang kata Amartya Sen, “terkungkung oleh spekulasi ganas dan kebuasan pengejaran laba”. Dan dalam persaingan demi mencari keberlimpahan sebanyak mungkin itu kita seperti kenal betul :  “kebencian, balas dendam, kekejaman, sadis, dan kriminal” –sesuatu yang membuat masa depan, kata Mishan dalam bukunya yang lain yang terbit pada tahun 1967, The Cost of Economic Growth, adalah “panaroma suram yang tak henti-henti”.

Pada akhirnya hal-hal itu –kebencian, balas dendam, kekejaman, sadisme, dan tindak kriminal- bukanlah milik ekonomi sepihak –ia secara biasa dimiliki dunia politik.

Hal-hal kotor itu kemudian memang tak bisa begitu saja dihapus, oleh orang-orang kuat dan sebaik apa pun. Tapi juga tak selalu kotor; dalam pertikaian selalu ada pihak yang membela kebenaran dan keadilan, meski nuansa pertempuran dan ambisi tetap menegangkan di kedua belah pihak. Di dalamnya masih tersedia ruang untuk disusupi suatu nilai yang membuat kita, setidaknya, tersenyum lega tanpa pretensi.

Kita menilai Sjahrir. Di pulau kecil Banda Neira itu, di tempat buangan itu, terlihat sisi lain sang Sjahrir. Ia gemar sekali bermain dengan anak-anak dan mengajar; seakan-akan ia menghilang ke dalam dunia yang tanpa ketegangan, pertikaian, dan problem; seakan-akan ia “benar-benar” berada di “sebuah firdaus”. Gairah itu, sampai-sampai memperlihatkan, simpul Sal Tas, sahabat dekatnya ketika di Belanda, “Di lubuk hatinya, Sjahrir tidak menyukai politik. Ia melibatkan diri ke dalamnya karena tugas dan bukan karena terpikat. Ia tidak terpesona oleh fenomena yang dahsyat, menarik, bergairah –terkadang luhur, sering kotor, namun sepenuhnya manusiawi- yang kita sebut politik.”

Maka yang dibutuhkan mungkin semacam keluhuran sikap dan etika –mungkin seperti bab yang ditawarkan Mishan dalam chapter 31 perspektif ekonominya: love dan trust sekaligus. Dalam cinta dan percaya itu segalanya menjadi nampak harmonis. Ketika ia, seseorang, memindahkan situasi dalam ke-bergairahan persaingan ekonomi dan politik, sepatutnya cinta itu tak pudar ; ia hanya perlu menghadirkan dalam bentuknya yang berbeda.

Betapa pun, beberapa memikirkan kembali adakah jalan yang lebih luhur. Dalam ekonomi, Anthony Gidden menulis The Third Way tentang perlunya sistem ekonomi alternatif yang berkeadilan dan berke-Tuhan-an, atau Joseph Stiglitz dan Bruce Grenwald yang mendakwahkan ekonomi moneter baru dalam Toward a New Paradigm in Monetary Economics. Dan kita, mungkin tanpa pernah sebelumnya melihat, mendengar tawaran “politik moral”.

Barangkali sebagian kita masih terlalu muda untuk pertikaian sesengit situasi-situasi dalam ekonomi atau politik yang ruwet dan sumpek, dengan dunia yang makin tak menentu ini. Barangkali kita kini masih seperti Obama semasa ia, seperti ditulis dalam Dreams From My Father : “I was too young to realize that I was supposed to have live-in father, just as I was too young to know that I needed a race”.

Dengan ini kita harus beranjak belajar memberi cinta di sebanyak mungkin ruang, tempat, dan waktu. Beberapa dari kita nantinya besar kemungkinan berkata bahwa apa yang ada di hadapan sangatlah menentukan, tak bisa di-samarata. Dan saya tak menolak pendapat itu.

Mungkin memang dengan anak kita bisa merasa lebih ‘lain’, seperti Sjahrir yang menemukan ‘firdaus’-nya. Dari petikan The Audacity of Hope-nya sang Presiden fenomenal itu, anak berangkali sesuatu yang memancing kemunculan cinta secara luhur dan menciptakan hal yang berbeda: “For three magical months, [we] fussed and fretted over our new baby…taking so many pictures that we started to wonder if we were damaging her eyes”.

Menarik : sebuah magic, yang menggugurkan nilai-nilai pragmatis dan ego dalam pertempuran, hadir dari dunia polos anak-anak, yang bahkan tak sekalipun memiliki ‘kekuatan’ ambisi selevel ekonom kawakan atau politisi kelas berat. Ternyata ada yang sekiranya perlu dikagumi dari anak-anak: mereka mampu menyulap bulan-bulan, hari-hari, bahkan detik-detik menjadi momen yang magic, tanpa ‘kekuatan’ me-limpah dan mencengkeram.

Rehan August 27, 2009

Posted by zidan1 in mereka, dan mereka, dan aku, resensi-resensi.
14 comments

Marilah kita bicara sebentar, tentang senyum-senyum yang “terlalu kekal untuk kenal duka”. Di kota-kota yang berpendar jika malam. Di sekeliling bangunan-bangunan bercirikan modernitas, yang memukau orang “masa kini”. Di wajah-wajah yang menampilkan konsumerisme. Atau di jalanan, yang ditemani keindahan, ditemani bulan merah jambu.

Sebagian kita tak tahu, se-kekal apa mereka merasai duka di “bawah jembatan”, “melintas-lintas di atas air kotor”. Lebih dari setengah abad lalu Toto Sudarto Bachtiar dalam sajaknya menampilkan gadis kecil berkaleng kecil. Tapi saya kira itu bukan hanya untuk satu jenis. “Gadis” hanyalah metafor untuk sesuatu yang lebih luas. Sesuatu yang dengan pilu bisa kita lihat pada bocah-bocah lain yang memilikinya: “angan-angan yang gemerlapan” dan suara-suara “kemayaan riang”.

Segera ingatan kita melaju pada recehan dan masa depan yang tercerabut, tergugu. Ada yang menahan mereka, semacam kabut, semacam cahaya yang meredup. Tapi kita tak bisa mengusir seluruhnya. Dengan beberapa receh itu kita memberi, tapi “kemayaan riang” tak pergi dari muka kusut masai.

Atau mungkin, akhirnya saya salah…

“Tuan, perkenalkan, saya Rehan : seorang yang tak jelas asal-usulnya, yang tak tahu siapa ayah-ibunya; keluar dari panti karena benci kepada Penjaga Panti; dan melanglang buana di meja judi, berkeliaran di terminal, mencuri apa pun untuk bertahan hidup, dan berkelahi dengan preman. Saya, di awal kisah, membaca tunggal diri sendiri sebagai sebuah subjek yang hadir di dunia, namun terjebak dalam dunianya sendiri, dalam urusannya atas pilihan hidupnya, dengan sedikit pun tak peduli sebab-akibat.

“Apa pun, saya tak peduli Diar. Diar salah mengartikan, ketika saya malah mengaku merusak tasbih milik Penjaga Panti. Hanya kebencian dan dendam, Tuan. Tak ada rasa kasihan atau niat tulus untuk Diar.

“Kalau Tuan membenci saya, saya memang patut dibenci. Diar, saya permainkan dalam insiden toilet. Saya pun ‘merepotkan’ Bang Ape; ketika Natan pada akhirnya tak bisa lagi mewujudkan mimpinya menjadi penyanyi, sulit bicara dan lumpuh akibat dihajar komplotan preman yang dendam pada saya; ketika Oude dan Ouda hampir terlibat dalam pengeroyokan tak kenal ampun. Mencelakakan nyawa orang lain.

“Namun itu semua tentang insting bertahan-hidup jerih, Tuan. Dari jalanan saya belajar. Dari lantai atas gedung tinggi dan tower air saya menimbang tindakan. Dengan ‘keras’ yang beda dengan ‘keras’ Tuan-Tuan, yang saat itu mungkin sedang duduk di bangku, meninjau buku-buku yang tak pernah sekalipun saya kenal.

“Toh, saya berhasil membuat legenda ketika bersama Plee melakukan pencurian yang hebat, yang akan dikenang dalam catatan polisi dari masa ke masa. Saya memanjat dengan gesit gedung itu, melaksanakan peran dengan baik. Dan saya telah merasakan semua tentang kejahatan: kegelapan, bunyi alarm, tembakan, sirene polisi, pengejaran, pengepungan. Tapi tak ada penjara, tak ada borgol, tak ada mobil polisi; lolos. Dan bukankah hal-hal terakhir membuktikan keampuhan saya bertahan-hidup?

“Tak melulu getir, memang, ketika saya pernah pula diliput malu, ketika saya berharap mendapat satu saja balon dari seorang gadis yang anggun, yang bahkan saya tak mengenalnya, ketika ia memberi balon satu per satu kepada anak-anak kecil di suatu kamar rumah sakit. Tapi karena tak mengenalnya itu saya penasaran. Cinta pertama. Seorang gadis cantik telah merusak rutinitas harian saya dan saya tak berdaya. Dan saya tak memberdayakan diri : saya genggam kaca pecah di pintu bangsal, berdarah. Dan dia membalutnya. Akhirnya dia sedekat itu, Tuan.

“Tapi itu belum cukup menyenangkan. Dia hanya diam. Tak menoleh. Tak berkata-kata. Sekalipun tidak tertarik mengenal saya. Ia tak sedetik pun menatap ke arah saya. Seperti tak peduli –dan mungkin memang tak peduli.

“Sisa malam selanjutnya tak ada ingatan tanpa tentang dia, Tuan. Dia sempurna meributkan hati saya. Poin-poin evaluasi sebagai mandor tak sedikit pun saya hirau. Keterlibatan hati, memang kadang mengorbankan hal lain. Ini membingungkan, sekaligus menyenangkan. Sampai beberapa waktu hubungan kami aneh sekali. Beberapa kali ke rumahnya, bertemu, menontonnya membuat puding, dan tak ada percakapan berarti –tak ada tatapan penuh makna darinya setiap berpisah.

“Tuan bisa mengira saya gagal. Gadis itu terlalu cantik bagi saya. Tak ada pantas-pantasnya saya mendekati. Tapi ternyata tidak. Sama sekali tidak, Tuan. Barangkali cinta tak perlu kata menerima atau menolak. Barangkali kata tak ada artinya bagi cinta sejati. Dan itulah yang ia –dan saya- punyai, Tuan.

“Ia akhirnya menangis. Mengaku bahwa ia mencintai saya dan kami menikah. Pernikahan yang bahagia, Tuan. Bagaimana saya tak merasa bahagia? Tuan-tuan pasti bahagia bila pendamping hidup Tuan adalah tipe yang sibuk bersikap ‘aku-hanya-butuh-ridhomu’. Itulah ‘F’. Maka, tak ada cinta jiwa selain ‘F’. Tidak akan pernah ada. Pun gadis cantik semenawan Vivi, seorang cucu taipan yang disegani namanya di seantero dunia. Saya, setelah menenggelamkan seluruh lawan bisnis dengan berbagai cara dan keberpihakan langit, tak lebih menganggapnya ‘adik’.

“Mungkin Tuan tak mengerti dan mengkal sekali pada saya atas semua kisah di atas. Mungkin karena Tuan tak pernah menyadari kalau ‘hidup benar-benar lelucon yang hebat’. Tapi tak mengapa, Tuan, asalkan ia, rembulan di atas sana, selalu menemani kejujuran pada malam-malam dengan siang yang pahit.

“Dan ia akan datang, Tuan. Satu malaikat bersayap indah, tersenyum menyenangkan, membalikkan rahasia-rahasia, menyingkap sebab-akibat yang tak pernah saya pedulikan –tentang kematian Diar, uang Penjaga Panti, mimpi-mimpi Natan yang terenggut, pengakuan Plee, cinta mendalam ‘F’, masa lalu Koh Cheu, air mata Rinai- lantas berseru: K-E-M-B-A-L-I-L-A-H.”

Di situ saya tertegun, berpikir. Malam-malam itu, di perempatan-perempatan atau pertigaan yang remang, adakah saya bertemu bocah seperti Rehan, seperti Jamal dalam film Danny Boyle, yang menjadi taipan, atau milyarder, esok hari? Mencipta hidup yang mirip ‘dongeng’? Mungkin. Tapi tak semua, tentu. Dan dari yang-tak-semua itu, “kalau kau mati”, kalau kau tak tengadah lagi, “bulan di atas itu, tak ada yang punya”. Tak ada lagi yang diberi bulan merah jambu, Kawan.

Dan kotaku, ah kotaku/ Hidupnya tak lagi punya tanda.