Tuhan November 22, 2009
Posted by zidan1 in lubang yang (biasa) tersingkap.add a comment
“Retirer pour mieux sauter”. Kata-kata orang Prancis itu merepresentasi dua kisah terkenal “menaklukan Napoleon”: mundur dulu setindak, untuk kemudian melompat lebih jauh.
1805-1812, Marsekal Mikhail Kutuzov melakukan strategi perang defensif menghadapi ofensif Napoleon di Rusia. Dan ia menang. Jenderal Inggris yang oleh Fuller dalam A Military History of Western World disebut sebagai master of defence, Duke of Wellington, melakukan hal yang sama ketika melawan Napoleon. Tapi dalam perang tetap ada kekejaman, tentang kematian, dan pembantaian. Orang-orang menertawainya dengan angkuh —seakan-akan perang tampak rasional sebagai solusi masalah, dan jeritan menjadi sesuatu yang ‘normal’, bahkan harus.
Mungkin kematian akibat perang selalu ada artinya. Kita bisa berharap. Tapi toh muncul tanya, setelah pada akhirnya kita setuju dengan kematian-kematian dalam suatu penggempuran —entah itu defensif maupun ofensif—: di manakah Tuhan? Sebagian menjawab: tidak ada. Sebagian lain: itulah Tuhan, Sang Pencipta kejahatan. Tentu, Anda boleh punya jawaban lain.
Tapi baiklah. Saya akan bercerita sedikit tentang Tuhan.
Syahdan, seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal bertanya pada para mahasiswa apakah Tuhan menciptakan segala yang ada. Seorang mahasiswa dengan berani berkata, “Ya!”.
”Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya Profesor sekali lagi. Dan dijawab dengan kata yang sama oleh sang mahasiswa.
“Jika Tuhan menciptakan segalanya”, kata Profesor, “berarti Tuhan mencipakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip bahwa apa yang kita lakukan menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan adalah Kejahatan.” —di sini sebuah hipotesis, tak ayal, mengarah pada agama adalah sebuah mitos.
Tapi kisah belum berhenti. Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata: “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu”. Mahasiswa kemudian bertanya: “Apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu dingin itu ada. Tak pernahkah kamu sakit flu?” ujar sang Profesor diiringi tawa mahasiwa-mahasiswa lain.
“Kenyataannya,” mahasiswa itu bicara, “Dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”
Pertanyaan kedua: Profesor, apakah gelap itu ada?
Profesor: Tentu. Gelap itu ada.
Mahasiswa: “Sekali lagi Anda salah, Sir. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari. Gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kita memakai kata gelap untuk ketiadaan cahaya.”
Pada akhirnya, pertanyaan ketiga: Profesor, apakah kejahatan itu ada?
Profesor: Ya, seperti yang telah saya katakan…
Mahasiswa : “Sekali lagi Anda salah, Sir. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Bagaikan dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya…”
Profesor itu terdiam.
Tapi beberapa tahun kemudian, mahasiswa yang mengajukan tiga pertanyaan dan menjawabnya sendiri dengan cerdas itu, Albert Einstein, mengirim rekomendasi kepada Presiden Roosevelt. Isinya: segera lengkapi arsenal Amerika dengan bom neutron. Dan kita tahu selanjutnya adalah bom untuk Hiroshima dan Nagasaki. Jahatkah Einstein?
Yang kita tahu: buku-buku sejarah menyebutkan bahwa Tuan Besar selalu mengundang keruntuhannya sendiri. No. 2, 3, 4 akan bergabung melawannya, membangun aliansi tandingan dan merencanakan kejatuhannya. Hal itu terjadi pada Napoleon, sama seperti yang menimpa Louis XIV dan Hapsburgs yang sangat kuat, juga Hitler dan Stalin. Kekusaan selalu memicu kekuasaan tandingan yang kuat —tentang aturan tertua politik dunia, oleh Josef Joffe.
Marionette November 16, 2009
Posted by zidan1 in mungkin akan datang, resensi-resensi.add a comment
DI Afghanistan menjelang subuh: beberapa laki-laki berkafayeh dengan kencangnya mengendarai kuda. Dengan senapan, mortar, dan roket dipanggul. Mereka berpatroli, siap bertempur. Mendaki perbukitan dan alam yang keras. Di negeri penuh kisah gagah akan kematian dan bertahan hidup ini sandal yang tak mencengkeram di bebatuan bertarung melawan boots tuan-tuan asing. Kita pernah dengar Uni Soviet yang adi kuasa itu sampai menyerah menghadapi lelaki-lelaki seperti itu.
Tapi di sana pula orang-orang cacat tanpa kaki berebut mendapat kaki palsu. Anak-anak terlantar, dan yang bisa mengaji bagus, menjelaskan dengan baik masalah senjata kongkang, mendapat makanan dari Mullah. Salah satu anak bernama Khak termasuk yang tak bisa baca Qur’an. Ia diusir dari tempat anak gelandangan, dan akhirnya bertemu Nafas.
Nafas mencari adik wanitanya di Kandahar. Ia memakai burgah. Satu-satunya yang mau mengantarkan Nafas adalah seorang anak kecil bernama Khak tersebut, dan untuk itu dibayar 50 dollar. Di tengah perjalanan ketika Nafas sakit, diperkirakan karena minum air sumur, dia dibawa ke dokter dan dokter menyuruhnya berhenti meminta tolong pada Khak. Nafas menurut. Sebelum pergi, Khak memaksa membeli cincin yang diambilnya dari mayat di gurun pasir seharga 1 dollar, tapi Nafas tak mau. Dan cincin itu pun akhirnya hanya diberikan begitu saja.
Tapi dokter itu ternyata bukan orang Afghanistan. Ia, Hamman, adalah orang asli Amerika, memakai janggut palsu, dan dengan profesinya sebagai dokter ia “sedang mencari kebenaran”. Hamman telah mengarungi hidupnya di dua suku yang saling berperang dengan keyakinan yang sama, “Tuhan bersama kita”, yaitu suku Tadjik dan Pachtoum. Hamman tak tahu mengapa keyakinan“Tuhan bersama kita” itu tak bisa membikin dunia damai.
Mungkin ia jadi ragu. Tapi ia tak lantas putus asa. Ia menempuh kebenaran yang diyakininya: kebenaran bagi Hamman adalah ketika membantu penderitaan sesama di suatu daerah yang rakyatnya mati karena penyakit-penyakit sepele seperti kelaparan, diare, dan flu. Kadang ia hanya memberi obat berupa makanan karena sang pasien kekurangan darah. Sederhana. Ya. Kadang, sesederhana itu…
●●●
TERUS terang, saya tak terlalu tertarik dengan film yang saya ceritakan di atas, yang berjalan tanpa sesuatu yang benar-benar menegangkan. Menggantung. Tanpa penyelesaian. Nafas lolos dari pemeriksaan, tapi Hayat yang mengantar terazia dan tak ikut. Film selesai, dan saya tak mengerti benar akhirnya.
Film berlatar gurun itu dipertontonkan kepada kami, para mahasiswa. Saya ingat, kami menontonnya satu minggu sebelum ujian semester. Tapi saya kira tujuan menyenangkan kami atau agar kami bersenang-senang dulu sebelum ujian adalah tebakan yang keliru —setidaknya bagi diri saya pribadi.
Film ini, yang merupakan antitesis dari film-film Hollywood yang cepat, lugas, dan tak mempedulikan sosial politik yang sebenarnya, memperlihatkan sesuatu yang tak selamanya enak didengar tentang perang —meski ia nyata dan apa adanya, juga terasa, monoton. Toh, memang begitulah Afghanistan sampai sekarang: tak enak kita terus-terusan menyetel berita bom-bom bunuh diri dan tewasnya ribuan warga sipil.
Delapan tahun perang Afghanistan, beserta segala yang porak poranda, terus berderet-deret dalam daftar tragedi manusia. Mungkin perang telah menjadi bisnis yang ironis: ia membuat orang berguna di ladang pembantaian dalam takdir seorang tentara, ia menyihir hati-hati manusia yang asalnya baik menjadi kecanduan dengan dentuman-dentuman dan darah yang muncrat.
Candukah perang? Pertanyaan itu membuat kita menengok kembali film The Hurt Locker yang dimulai dengan kutipan “perang adalah candu” dari buku War is a Force that Gives us Meaning karya Chris Hedges, ketika seorang penjinak bom menikmati sensasi ketegangan peran yang dilakoni. Barangkali karena candu itu perang nampaknya jadi relatif: kebenaran dan kebaikannya tidak mutlak dan total. Ada dua atau lebih sisi yang saling berpihak dan tak berpihak. Dari satu sisi perang nampaknya dibutuhkan, tapi kita kini seolah melihat Afghanistan yang tak bisa membangun diri, terseok-seok, setelah hancur. Bahkan ‘hanya’ pemerintahan “boneka” di bawah Hamid Karzai yang memimpin negeri para Mullah ini pasca invasi Amerika.
Boneka, kita tahu, ia benda yang bisa diotak-atik semau pemiliknya. Ia, pemerintahan “boneka”, tak bisa mewakili yang utuh dan sebenarnya dalam demokrasi yang diinginkan di Afghanistan. Yang dikatakan Shakespeare tentang “stage”, dalam kasus Afghanistan, memiliki “actors” seperti dalam permainan marionette: “actors” yang terpampang utama bukanlah yang memegang kendali sebenarnya. Pemerintahan Hamdi Karzai pun tampak seperti sebuah façade. Tak ada “isi” di mana rakyat yang berkehendak dalam sebuah “bangsa” dihargai oleh “negara”.
Yang juga ada kemudian, kemunafikan. Legitimasi merosot dan korupsi makin marak. Kekerasan, seperti diakui jenderal-jenderal Amerika, selalu dalam posisi gawat dan bahaya dari tahun ke tahun. Kota-kota tak aman. Polisi lokal tak bisa menangani kekacauan. Muncullah ide menambah pasukan asing untuk menciptakan stabilitas —ide, yang sebenarnya, tak baru.
●●●
TAPI orang-orang pun ragu kedatangan tentara-tentara asing akan membawa ke arah yang lebih baik. Ini bukan masalah remeh, soalnya, orang-orang yang ragu itu adalah setaraf presiden, atau perdana menteri, atau intelektual-intelektual cerdik-pandai, meski optimisme selalu ada. Diantaranya, David Milliband yang Menteri Luar Negeri Inggris berpendapat bahwa penambahan pasukan “tidak akan pernah cukup untuk menegakkan stabilitas di seluruh wilayah”, meski ia menganggapnya penting untuk “mendukung solusi politik”.
Sementara itu, kolumnis Joe Klein Oktober lalu menulis sebuah esai dalam majalah Time berjudul The Middle Option. Klein menilai kegagalan beleid Obama dalam hal menjamin Kandahar dan titik tumpu kekacauan. Pasukan harus ditambah meski hanya 10.000 pasukan —atau kurang 30.000 dari permintaan sang Jenderal—, McChrystal dengan idenya mesti didukung. Bagi Klein, yang sepertinya kagum dengan pandangan McChrystal, yang diharapkan dari “counterinsurgency strategy” bahwa penambahan pasukan akan membawa kemenangan, menjadi mungkin karena adanya “kemanusiaan yang esensial dalam hati” untuk membantu sesama.
Pada akhirnya kecaman tetap datang tanpa henti. Apa yang setidaknya diinginkan di masa lalu tentang sesuatu yang lebih tenang, seolah seperti ungkapan seorang panglima Taliban yang membawahi 200 pejuang di provinsi Nuristan : there was no reason to pray for victory, since such a return seemed inconceivable. Barangkali masa tenang tak akan pernah ada. Mungkin semua tahu, Tuan, tak akan pernah ada…
Aung San Suu Kyi November 10, 2009
Posted by zidan1 in lubang yang (biasa) tersingkap.2 comments
Seseorang akan bebas dan akan selalu
sehijau kemarau
Seseorang akan bebas dan sehitam asam
musim hujan
Seseorang akan bebas dan akan lari
atau letih
Dan langit akan sedikit dan bintang
beralih
Dan antara tiang tujuh bendera dan pucuk pucat
pagoda
Seseorang akan bebas dan sorga akan
tak ada
Tapi barangkali seseorang akan bebas dan memandangi
tandan yang terjulai
tandan di pohon saputangan, tandan di tebing jalan
ke Mandalay
[Goenawan Mohamad, 1996-1997]
Pesta October 26, 2009
Posted by zidan1 in ada yang lain dariku, mereka, dan mereka, dan aku.4 comments
Seorang penyair melalui bait-baitnya yang sederhana mengingatkan saya suatu hal yang bermakna tentang pesta:
Di barat, matahari tenggelam beberapa saat lalu. Hari ini sudah seminggu berlalu, semenjak undangan itu masuk ke rumah sederhana kami, dari ibu-anak yang datang dengan Corolla biru: undangan untuk menghadiri pesta ulang tahun.
Kami bersiap. Kami lebih dari cukup bisa membayangkan kata “pesta” itu sendiri mewakili sesuatu di benak kami tentang hal-hal megah dan istimewa. Apalagi ibu-anak itu datang dengan mobil Corolla biru —yang kami pun hanya mimpi di siang bolong untuk memilikinya: sebuah pesta bisa berarti kata lain foya-foya. Mungkin malam ini akan seperti pesta “biasa”: potong kue, tiup lilin, dan tepuk tangan bernyanyi Hepi-Bisde-Tuyu – Hepi-Bisde-Tuyu.
Dan berangkatlah kami pada waktu yang ditentukan Berjumlah dua
puluh tiga, termasuk bapak dan ibu asrama. Jalan kaki bersama, karena
jaraknya cuma terpisah sepuluh rumah saja
Sampai di sana kami dipersilakan masuk dengan ramah. Rumah yang megah, pikir kami. Kami, seperti biasanya orang-orang panti yang dipenuhi keminderan, sebenarnya ingin duduk di belakang-belakang saja. Tapi kami diminta berbaur dengan remaja-remaja “lain” —remaja-remaja “lain” tersebut adalah sebagaimana remaja-remaja perkotaan: harum-harum, sehat-sehat, berbaju apik dan mahal, serta tembem-tembem pipinya.
Bagi kami, anak-anak panti, yang menjadi musuh pada saat-saat seperti ini adalah rasa minder, selain canggung dan pegal bersila. Di tengah-tengah perabot antik yang berjajar, lampu kristal yang bergelantungan menawan, serta di karpet lembut yang entah bagaimana sangat nyamannya diduduki, saya menatap suasana di sekitar dengan setengah tegap setengah menunduk. Namun sesaat kemudian saya terkejut, Tuan…
Lalu seorang remaja membaca Surah Luqman.
Dengan suara amat merdunya dan suaranya berubah jadi untaian mutiara
Yang berkilauan jadi kalung di leher pendengarnya
Tak ada potong kue, tak ada acara tiup lilin, tak ada tepuk tangan dan nyanyian Hepi-Bisde-Tuyu – Hepi-Bisde-Tuyu —tak ada definisi “pesta” seperti yang ada dalam kamus pikiran kami. Yang sedikit ada adalah pidato dari anak yang berulang tahun, yang menghantarkan surat undangan kepada kami sepekan yang lalu. Lia namanya:
”Dalam acara seperti ini, bukan saya yang jadi pusat perhatian diperingati atau dihargai tapi mama…Ya, mama kita, Ibunda kita dan ayahanda. Ibunda dan ayahanda adalah pusat perhatian kita. Hari ini, enam belas tahun yang lalu, mama melahirkan saya. Posisi saya sungsang, Saya terlalu besar. Jadi mama harus sectio Caesaria. Mama dibedah, berdarah-darah. Seluruh keluarga khawatir dan berdoa. Di luar ruang operasi duduk menanti berita dalam kecemasan luar biasa. Tapi Alhamdulillah kelahiran selamat walau pun mama sangat menderita.
Sekarang ini, enam belas tahun kemudian. Ulang tahun saya dirayakan. Saya pikir, tidak logis saya jadi pusat perhatian. harus mama yang jadi pusat perhatian. Mama. Bukan saya, Saya pikir, tidak logis saya minta kado. Harus mama yang diberi kado…”
Tak lama, sebuah bingkisan kertas berkilat, diikat bunga berbentuk pita, diberikan oleh Lia untuk ibundanya, persis 16 tahun setelah sang ibu itu mempertaruhkan nyawa berdarah-darah. Napas tertahan, kemudian muncul haru, kemudian muncul isak air mata, lalu hening…
Lia tak mau ada upacara tiup lilin, “dalam ensiklopedi zaman batu di Eropa diketemukan bahwa nyala lilin bisa mengusir sihir, roh jahat, leak, memedi, sijundai, dan semacamnya”. Lia menolak superstiti Romawi Kuno. Tak bisa cita-cita terkabul hanya dengan sekali-tiup-semua-lilin-padam. “Saya tak mau cuma jadi kawanan burung kakaktua, burung beo yang pintar meniru adat Belanda dan Amerika”, begitu lanjutnya.
”Hadiah paling saya harapkan dari kalian
Adalah doa bersama, sesudah hamdalah dan
salawat karena saya ingin jadi anak yang baik laku, jadi perhiasan di leher
ibuku , jadi penyenang hati ayahku, rukun dengan kakak-kakak dan
adik-adikku, bertegur-sapa dengan semua tetangga. Dan kelak ketika
dewasa berguna bagi Indonesia.”
Setelah makan saya melihat tuan rumah yang baik hati itu. Bapak dan ibu itu berdiri bersama Lia anak gadisnya dan berbicara sangat mesra. Kubayangkan ayahku almarhum, mungkin seusia dengan bapak ini, beliau meninggal ketika umurku setahun. Kubayangkan ibuku almarhumah wafat ketika aku kelas enam SD. Mungkin seusia pula dengan ibu itu. Dan saya ingat, Tuan…tak pernah aku merayakan ulang tahunku…Tidak pernah…
Ini memang bukan kisah saya, seseorang yang besok resmi berumur 20 tahun versi penanggalan Masehi. Taufik Ismail menulis kisah ini dalam puisi Cerita Seorang Anak Yatim Piatu Selepas Pesta Ulang Tahun Tetangganya. Tapi tak ada salahnya saya mencoba melekatkan cerita Taufik pada hari-hari ini —ketika masa depan lebih tak pasti dari takhayul dan akhirat mendekat. Ketika saya masih sempat berdoa seperti anak yatim dalam pesta ulang tahun yang haru: Semoga sorga firdaus jua bagi ibu bapakku.
Mungkin suatu hari seseorang membisikkan kisah ini untuk anaknya, di suatu malam yang indah, di suatu hati yang terlelap —dan kisah pun berulang. Mungkin kau bisa lebih mengerti dariku, Kawan, tentang “saya” dalam kisah, juga tentang Lia.
Sekian, cerita pada suatu malam yang mengagumkan. Tak tertahan. Titik air mataku.
Di Pittsburgh October 24, 2009
Posted by zidan1 in lubang yang (biasa) tersingkap.add a comment
Konferensi Tingkat Tinggi berlangsung di kota yang telah berdiri 183 tahun. Di Pittsburgh, Negara Bagian Pennsylvania: 24-25 September lalu.
Tokoh-tokoh G-20 berkumpul: Nicolas Sarkozy, Barack Obama, Gordon Brown, dan lain-lain. Tapi kehadiran para tokoh-tokoh itu bukanlah hanya kehadiran, dengan jas-jas yang necis dan wangi. Setidaknya kita berharap demikian. Sebab kehadiran memunculkan asa. Harapan itu kemudian membuat jalan manusia tak terlihat bersifat impasse. Sebab itu manusia bertahan setelah berbagai revolusi dan peperangan. Sebab itu kehadiran sama juga dengan secercah keinginan untuk keluar —keluar dari hal-hal yang menghimpit.
Tapi sebagaimana revolusi, atau peperangan, ada yang dikorbankan dalam apa yang dinamakan “modernisasi”, “industrialisasi”, atau apalah lagi sebutan buat dunia yang makin berkembang ini. Hal-hal yang menghimpit itu pada akhirnya tidak dapat dihindari. Setelah revolusi dan peperangan, hal selanjutnya adalah selalu perbaikan. Dan kini bumi dalam keadaan yang pelik dan butuh, setidaknya, langkah-langkah perbaikan.
Di Pittsburgh, pemimpin-pemimpin G-20 mengompromikan untuk “mengelola keterbukaan dan langkah ke depan program lingkungan dan pertumbuhan berkelanjutan”. Ada kepatutan kita untuk senang, sedikit kelegaan. Meski nampaknya terlalu dini untuk memperkirakan langkah yang segera di kemudian hari: janji belum “disegel”.
Kekhawatiran telah meluas. Ian H. Rowlands dalam artikel The International Politics of Global Enviromental Change belasan tahun lalu menyoal isu perubahan lingkungan —tentang penipisan lapisan ozon dan pemanasan global. Ia, dengan berderet paparan historis, mengurai usaha manusia untuk menyelamatkan bumi, secepatnya.
Ilmuwan mulai terlibat dalam politik internasional, meski “penggerak” —dalam hal ini kekuasaan ada di tangan negara— adalah tak kalah penting dibanding “suara-suara” gelisah para ilmuwan: kita makin hidup di bawah terik dan ancaman permukaan laut yang meninggi. Perlu ada jalan keluar, perlu ada gerakan dalam politik internasional.
Mungkinkah ini efek globalisasi? Dalam era ini, bahkan semenjak isu perubahan lingkungan menjadi isu internasional pada 1970-1980-an, globalisasi bisa menjadi pusat kritik lain. Noam Chomsky mengemukakan :
“Globalisasi yang tidak memprioritaskan hak-hak rakyat sangat mungkin merosot terjerembab ke dalam bentuk tirani, yang dapat bersifat oligarkis dan oligopolistik. Globalisasi semacam itu didasarkan atas konsentrasi kekuasaan gabungan negara dan swasta yang secara umum tidak bertanggung jawab pada publik.” (Globalization that does not prioritize the right of people will very likely degenerate into a form of tyranny, perhaps oligarchic and oligopolistic, based on concentration of tighly-largely unaccountable to the public)
Chomsky, dengan begitu, sebenarnya tak menyalahkan globalisasi. Ia menulis tentang “globalisasi semacam itu”, yang berkategori “tidak memprioritaskan hak-hak rakyat” (that does not prioritize the right of people) dalam kekuasaan. Tentu Chomsky bicara masalah “rakyat” di satu negara. Tapi “rakyat” bisa pula berarti “seluruh penduduk bumi” ketika kita bicara lingkungan global dalam pola-pola industri yang makin liar. Kata “rakyat” menjangkau seluruh yang bisa melarat dan kaya, di bumi.
Akhir 1980-an, dalam Montreal Protocol, diskusi menghangat, antara negara maju dan berkembang tentang hak-hak yang sama. Negara berkembang, diwakili Cina dan India, meminta bantuan agar mereka bisa melaksanakan Montreal Protocol.
Dunia industrilah, mereka berargumen, yang menyebabkan kerusakan lapisan ozon, dan negeri-negeri “Selatan” yang harus membayarnya dengan mahal. Maka negeri-negeri “Selatan” tak ingin membahayakan prospek pengembangan industri level tinggi ke arah penggunaan bahan kimia berbahaya. Negeri maju harus bertindak. Caranya: transfer teknologi dan keuangan dari “Utara” ke “Selatan”.
Pun mungkin memang berat, ketika negara-negara semacam Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Jepang, menolak mengurangi emisi CO2, hasil konferensi di Noordwijk, Belanda, pada 1989. Resistensi ini tentu akan mengurangi produktivitas negara industri maju —selain bahwa upaya implementasi konvensi global untuk perubahan iklim mahal, ditambah dengan kalkulasi adanya resesi.
Tapi dengan ini kita seperti teringat khotbah E.F. Schumater yang dengan rendah hati mengutip Gandhi : bumi cukup persediaan untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi tak akan cukup untuk memenuhi keserakahan kita. Dari Gandhi, dari fakta dan histori paparan Ian, kita tahu yang dinamakan serakah adalah mungkin resisten terhadap usaha bersama, juga tak peduli. Atau kita bisa bilang pasif, yang menindas sebagian di atas yang lain.
Yang sedikit luput dari Ian adalah menjelaskan bagaimana kini para ahli mulai berpikir tentang peralihan dari industri berat ke jasa dan pariwisata.
Di Pittsburgh, seolah-olah, sebagai tuan rumah KTT G-20, Obama menunjuk “sebuah perubahan yang berhasil”. Pittsburgh dulunya merupakan kota pusat industri berat Amerika. Tapi akhir era 1970-an Pittsburgh jatuh. Ribuan pekerja dilepas seperti melepas asap hitam yang selama ini membumbung di langit kota: berat tapi harus.
Pada akhirnya perubahan adalah harus dan harapan tentang solusi seperti harapan hujan di kemarau yang panjang. Keterdesakan kerap menjadikan ide manusia lebih kreatif dan solutif. Di Pittsburgh, industri berat mulai digantikan dengan industri berbasis teknologi, kesehatan, perhotelan, dan jasa keuangan. Mesin penggerak ekonomi yang tak lagi membuat hawa kota memanas pun dijalankan. Pittsburgh berbenah, Pittsburgh berhasil —meski kita sadari itu tak mendadak.
Atau mungkin kini kita mesti serius menyimak seorang yang berkata, “Saya ingin mengobati bumi”. Boedi Krisnawan Suhargo, seperti yang diberitakan majalah Tempo, membangun proyek kreatif rehabilitasi lahan kritis —gabungan yang selama ini cenderung berlawanan: usaha pengembang dan pelestarian lingkungan.
Secercah harapan lain datang di negeri sendiri. Tapi apa dengan kata-katanya kita masih harus was-was: saya bukan malaikat, saya tak bisa mengobati semuanya?
Lincoln October 19, 2009
Posted by zidan1 in ada yang lain dariku, lubang yang (biasa) tersingkap, mereka, dan mereka, dan aku.1 comment so far
LINCOLN, presiden Amerika ke-16 yang takdirnya mati tertembak itu, tahu ada yang tak beres di negerinya. Dan ketakberesan yang menghinggapi pikiran orang besar, biasanya tak main-main: ia berpikir tentang nasib orang banyak.
Dalam Gangs of America, The Rise of Corporate Power and The Disabling Democracy yang terbit tahun 2003 Ted Nace mengutip surat Lincoln kepada William Elkins, sahabat baiknya:
“sebagai akibat perang, berbagai korporasi telah menjadi seperti raja dan era korupsi di tingkatan tinggi segera mengikuti, dan kekuasaan uang akan berupaya memperpanjang kekuasaannya dengan merugikan kepentingan rakyat sehingga seluruh kekayaan akan terpusat di sejumlah tangan yang terbatas dan Republik menjadi hancur. Saya lebih prihatin pada saat ini lebih dari saat-saat sebelumnya, tentang nasib negeri saya, bahkan di tengah suasana perang. Puji Tuhan, semoga kekhawatiran saya ini salah adanya”
Hari itu mungkin Lincoln sudah tak sabar atas resahnya, sampai ia menulis surat. Ia menulis tentang hubungan korporasi dengan “tangan yang terbatas”. Tentu, “terbatas” di sini tak berarti bahwa kemampuan mereka kecil atau sempit, bahkan sebaliknya. Ke-“terbatas”-an itu menguasai. Ke-“terbatas”-an itu, tulisnya, seolah mampu membuat “Republik menjadi hancur”.
Surat itu, seluruhnya, memang bernada bahwa sesuatu yang mengimpit rakyat akan bangkit dan memegang kendali. Kita tahu, kemudian, kalau Lincoln prihatin “lebih dari saat sebelumnya”, di era ini, yang mana “berburu” dan “kekuasaan” menjadi kata kunci yang tak habis-habis, kita menghadapi berkali-kali lipat keprihatinan itu —atau malah tidak?
●●●
GUBERNUR, walikota, pejabat negara, pengusaha besar, intelektual, atau semacamnya, memang kelompok-kelompok yang dipandang tinggi, atau elit. Segala kita menatapnya, memperhatikan dengan takzim untuk kata-kata yang keluar dari sosok seperti mereka.
Tapi mereka bukan malaikat. Bukan orang per orang yang membuat segala yang tampak perih menjadi mudah. Dan lebih buruk lagi: mereka bisa menjajah rakyat dengan “kemampuan yang di atas rata-rata itu”. Menekan, untuk selanjutnya membuat rakyat celaka. Mungkin dengan korupsi:
“corruption as the abuse of public position for private, individual or group to whom one owes allegiance. It occurs when a public official accepts, solicist, or extorts payments, or when private agents offer a payment to circumvent the law for competitive or personal advantage.” (dalam GOPAC Handbook on Controlling Corruption; Startegy Brief – 2: Understanding Corruption)
Dalam hal korupsi, seseorang dengan “kemampuan yang di atas rata-rata” membawa kuasanya untuk beberapa orang lain. “Keuntungan kompetitif” dan “keuntungan pribadi” dipuja. Apa yang disebut dengan “kesetiaan” dalam definisi korupsi menjadi kabur maknanya. Ia tak lagi suci, mulia, dan mencirikan suatu kebaikan. Dan ia, dengan mengacu pada “penyalahgunaan kekuasaan publik”, hadir dalam bentuk yang semakin luas menjangkau : developmentalisme —suatu kemistri ideologis, seperti yang pernah dikemukakan Dawam Rahardjo, antara kepentingan negara industri maju dan kepentingan elit politik negara di “Dunia Ketiga”.
Motif developmentalisme mungkin terlihat sempurna: ia membendung komunisme sebagai pilihan pembangunan negara-negara di Dunia Ketiga dengan asumsi bahwa komunisme menyuburkan kemiskinan. Kemudian muncul nasionalisme ekonomi —nasionalisme ini merugikan industri negara-negara maju.
Maka teori pembangunan internasional —yang berpotensi mengadakan dukungan kepada elit politik “Dunia Ketiga” ke jenjang kekuasaan— diajukan, dan berkibar. Keran kesempatan asing untuk bermodal di “Dunia Ketiga” terbuka. Elit-elit berkuasa merapatkan diri dalam “kesepakatan-kesepakatan” yang dipenuhi profit-profit buat diri pribadi.
Rakyat dibuat tak tahu-menahu. Yang rakyat tahu adalah bahwa mereka mandiri, bahwa nasionalisme baru yang tak hanya pada tataran ideologi tengah dibangun, entah dari mana modal pemerintah untuk membangun. Di Indonesia, pada masa Orde Baru, developmentalisme seperti ini dengan cukup “solid” dihimpun oleh koalisi militer-intelektual-pengusaha, baik dalam negeri maupun dengan pihak asing.
●●●
JOHN Perkins, seorang mantan economic hit man, membaca ekonomi dunia abad 21. Ia menganalisis, dan entah bagaimana, suatu istilah bertengger di pikirannya: korporatokrasi. Sebenarnya ia tak yakin apakah pernah mendengar sebelumnya. Tetapi, katanya, “it seemed to describe perfectly the new elite who had make up their minds to attempt to rule the planet”.
Segera Perkins, dan bukunya, tak disukai. Kemapanan korporatokrasi besar yang dianggap “mendikte kekuasaan” menjadi tak nyaman. Tapi memang pandangan itu cukup menarik dan dibenarkan sejumlah pengamat, terutama di abad di mana ekonomi dan materi disimbolkan sebagai kemajuan daripada moral —hal yang seringkali tercecer dan ditertawakan dengan sinis.
Tapi mungkin moral tak cuma hal. Pesona moral seakan menanjak, meski dengan begitu ia serasa berada di luar jangkauan,. Orang-orang kini melihat usaha menggabungkan kekuatan ekonomi besar bersama moral sebagai utopia. Meski perusahaan-perusahaan memiliki Corporate Social Responbility, ada yang tak terlihat oleh awam: suatu yang bersifat transaksional, namun tanpa fairness. Dengan begitu ia tak bersifat relasional —untuk mendefinisikan keuntungan yang sama dan pembagian yang adil.
Mesin kekuasaan yang bernama korporatokrasi pada akhirnya masih dalam tahapan belum bisa diruntuhkan sepenuhnya. Manipulasi undang-undang antara negara dan korporasi-korporasi besar terlanjur erat mengikat. Himpunan militer-intelektual-pengusaha masih mengungkung “Dunia Ketiga”. Terutama kepentingan akan minyak di Timur Tengah oleh Amerika. Dukungan material terhadap kekuasaan elit “Dunia Ketiga” masih belum lepas dari pihak-pihak “luar” dalam lingkaran korporatokrasi. Struktur ini berkait erat akibat developmentalisme yang selama ini berjalan cukup “tertib”. Developmentalisme, dengan kata lain, melahirkan fenomena korporatokrasi yang susah buat rakyat.
●●●
GADIS kecil itu berada di rumah saya, menginap, mungkin sebulan sekali. Ibu yang selalu mengajaknya. Ia adalah adik sepupu bagi saya.
Kedua orangtuanya bekerja serabutan selama beberapa tahun, dengan gaji yang selalu tak cukup untuk satu bulan kehidupan, dan merupakan suatu sampel dari satu setengah milyar orang penduduk dunia yang hidup dengan kurang dari satu dolar perhari.
Dengan begitu saya tahu alasan ibu selalu mengajaknya: dalam anggapan kami, sebuah keluarga kelas menengah, gadis itu tak terlampau bahagia bersama kedua orangtunya. Mungkin ia tak tertekan oleh pengalaman, tapi hidupnya pahit. Tubuhnya kurus karena tak cukup makan. Di rumah kami ia cukup leluasa untuk makan enak –bahkan meski hanya ayam goreng, makanan yang bagi ukurannya terlihat cukup “mewah”.
Sang gadis kecil memang masih bisa tersenyum. Mungkin karena ia tak tahu pembangunan ala kapitalisme —yang memperlihatkan fenomena korporatokrasi— yang membikin rakyat sengsara. Mungkin karena itu ia belum keras kepada pemerintah hingga percaya seperti Stone kalau: all government are run by liars and nothing they say should be believed. Dan kita bisa bilang: tak mengherankan.
Tapi niat ibu saya melalui gadis kecil itu, atau kisah-kisah yang mungkin serupa, membuktikan kerendah-hatian masih ada, meski mereka kecil-kecil dan tersebar. Meski mereka tak sebesar korporatokrasi. Barangkali beberapa orang kini masih ingin berkata, tentang “kekayaan yang terpusat” dan “terbatas”, setelah ini semua, seperti surat Lincoln yang cemas, “Semoga kekhawatiran ini salah adanya…”
Radikalisme October 19, 2009
Posted by zidan1 in lubang yang (biasa) tersingkap, resensi-resensi.add a comment
13 Oktober 2009, siang hari: seseorang seperti pesepakbola Maradona, berkemeja merah, berkacamata hitam menarik, putih, agak gemuk, tapi tegap dan berwajah yakin, datang mengisi kuliah saya. Ia datang dari Singapura beberapa hari sebelumnya —seorang dosen National University of Singapore: Vedi R. Hadiz.
“Nonsens…”, katanya memulai kuliah, tanpa ragu, “…radikalisme muncul bukan karena jaringan terorisme, karena Al-Qaeda, atau masuknya ideologi Wahhabi. Apalagi, seperti kata salah seorang kawan saya, Talibanisme”.
Saya sedikit terpaku. Berpikir keras. Menanti kata-kata lanjutan.
“Bagi saya itu nonsens…”, kata sang dosen dengan ekspresi wajah: bicara apa sih mereka. Tapi ia meneruskan, dengan sesuatu yang menarik di balik kalimatnya ini, “untuk mengetahuinya kita harus mengerti konteks sosial di mana Islam muncul.”
“Meskipun, secara simplistis, Asia Tenggara adalah model Islam moderat, dan Timur Tengah bergerak lebih radikal, tapi tak selamanya segala sesuatunya harus berjalan menurut apa yang umum. Yang radikal, selalu ada di kumpulan para moderat, begitu sebaliknya di Timur Tengah.”
Ia pun mengajukan tanya kepada majelis kelas: mengapa kemunculan radikalisme Islam di Indonesia baru muncul pada 1990-an, bukan pada era-era sebelumnya?
Vedi Hadiz pertama menyinggung Sarekat Islam sebagai organisasi massa modern dan krusial dalam mengembangkan nasionalisme Indonesia. Lalu Partai Komunis Indonesia didirikan tak lama setelah itu. Adanya kedua organisasi ini berlatar belakang kepentingan material—pertentangan secara ideologi ini pertama berasal dari saudagar dan elit-elit desa demi mempertahankan properti mereka. Dan keduanya, yang muncul di Hindia Timur waktu itu, selain itu merupakan “respon” atas pemerintahan kolonial.
Dengan ini kedua organisasi terinspirasi kolonialisme, yang dalam kata-kata Vedi Hadiz adalah ”kapitalisme yang dicangkokkan di Indonesia”: mereka melawan, mereka tak sepakat, harus ada gerakan tak setuju. Bahkan kemudian suatu gagasan penggabungan Islam dan komunis tumbuh —didasarkan kesamaan asas penentangan terhadap kapitalisme, di bawah Haji Misbach di Jawa dan Haji Datuk Batuah di Sumatra Barat.
Dalam artikel The Post-Cold War Political Topography of the Middle East: Prospect for Democracy, yang ditulis Halperin tahun 2005, seperti dikutip Vedi Hadiz, turut memperlihatkan suasana yang kurang lebih sama, ketika gerakan sayap Kiri mucul di Timur Tengah akibat penindasan oleh elit lokal yang pro-penjajah Inggris dan Prancis.
Setelah Islam dan komunis menjadi kekuatan melawan kolonialisme Belanda, pada pertengahan 1960-an, terjadi perubahan peta politik. Komunis runtuh, negara dan militer memiliki kekuasaan luar biasa, dan Islam pun berposisi sebagai pendukung negara. Tentu, “pendukung” ini, yang diharapkan akan setara dengan “partner” kemudian malah berubah jadi “alat” —dengan mengambil contoh Komando Jihad yang diduga disponsori Ali Murtopo, salah seorang tangan kanan Soeharto.
Secara singkat, monopoli yang diharapkan akan jatuh ke pihak Islam tak terjadi. Setelah komunisme, bagi negara dan militer, Islam adalah ancaman selanjutnya. Bagaimana pun stabilitas bagi aparat negara adalah segalanya —dan inilah yang terulang seperti pemerintahan Aljazair dan Tunisia pada tahun 1980-an, dan Mesir di bawah Nasser pada tahun 1970-an terhadap Ikhwanul Muslimin: kekuatan Islam diberangus.
Buruh (mewakili Leftist), intelektual (social-democratic), dan kaum pedagang (liberal) —ketiganya dari waktu ke waktu saling beradu dengan pemerintah Orde Baru. Ketiganya memang kemudian termarginalisasi, dengan sedikit kaum pedagang mendapat tempat akibat dipakainya sistem kapitalisme. Tapi negara tetaplah yang terkuat.
Orde Baru kemudian hanyalah kuasa satu pihak. Dan kita seakan melihat versi lain Mao di Cina. Di negeri tirai bambu itu Mao sadar Partai Komunis Cina terlalu berkuasa. RRC yang tak kenal oposisi dan pers bebas mengalami kemandekan dan korup —selain kestabilan dan sejumput “kesunyian” kelas bawah. Penyelewengan marak. Namun Mao sudah terlanjur membungkam segala yang bertentangan dengannya. Tapi mungkin juga tidak, di kemudian hari: “Pengawal Merah” dibentuk, dan suara ketidakpuasan terhadap pemerintah meluap.
Pada akhirnya pembungkaman bisa jadi menghasilkan suara amarah yang dahsyat, dengan kobaran yang tak selalu bisa ditenangkan kembali. Begitu pula Orde Baru. Dengan ini Vedi Hadiz melihat kekuasaan autoritarian Orde Baru sebagai penyebab munculnya radikalisme. Dengan kata-kata darinya dalam artikel Toward a Sociological Understanding of Islamic Radicalism in Indonesia, radikalisme Islam di Indonesia adalah “the product of the long phase of authoritarian capitalist development under New Order rule”.
Sebuah siklus seperti berulang. Radikalisme saat ini mirip suatu amarah ketika Islam dan komunis merespon kolonialisme Belanda. Yang mereka, kaum radikalisme itu mau, mungkin hanya supaya noda di pemerintahan sirna, keinginan akan suatu keadaan yang lebih baik dengan cara yang frontal. Atau dengan bom adalah suara alarm pengingat kesadaran untuk para elit di zaman yang rusak.
Tapi dengan penjelasan itu pengaruh globalisasi dinafikan. Bahkan Vedi Hadiz menyingkirkan gagasan Huntingtonian tentang benturan peradaban. Penyebab seperti impian revolusi Islam di Iran di bawah Shari’ati, atau pengaruh pemikiran Sayyid Qutb dari Timur Tengah, seperti yang disinggung Martin van Bruinessen dalam Genealogies of Islamic radicalism in Post-Soeharto Indonesia, sama sekali tidak diperhitungkan. Atau hal-hal seperti itu mungkin hanya ‘pemicu’ tambahan untuk emosi yang mapan?
Barangkali Vedi Hadiz adalah seorang yang membidik: ia mengharuskan dirinya menyempitkan pandang. Sejarah bisa dibaca berbeda menurut tafsir masing-masing. Vedi Hadiz hanyalah “salah satu”. Zaman, toh, memang terkadang rumit —selain tak seramah saat beliau memberikan kuliah tempo hari.
Rechtsstaat October 14, 2009
Posted by zidan1 in lubang yang (biasa) tersingkap, resensi-resensi.add a comment
Tulisan yang terbit tahun 1983 itu, Old State New Society : Indonesian’s New Order in Comparative Historical Perspective, oleh Benedict Anderson, memaparkan conflation antara yang old dan new pada suatu yang dinamakan negara —lebih spesifik lagi: negara Indonesia.
Sedangkan di belahan bumi lain, di tahun yang berlainan, 1996, seorang diplomat Amerika menawarkan —atau berbagi— kehati-hatian tentang orang-orang “rasis, fasis, separatis, yang secara terbuka menentang perdamaian dan penyatuan kembali” yang terpilih dengan pemilu yang “dinyatakan bebas dan adil”.
Richard Holbrooke, diplomat itu, agaknya memiliki kekhawatiran yang muncul seperti siklus klise sebuah pengalaman. Pengamat-pengamat demokrasi pada waktu itu memang sedang awas dengan kebangkitan demokrasi yang tak liberal di berbagai belahan dunia.
Di sini terdapat situasi yang terhubung, setidaknya, mengenai Orde Baru yang dipaparkan Anderson dan kekhawatiran Holbrooke terhadap demokrasi tak liberal.
Demokrasi —sesuatu yang tak hanya, untuk memakai kata-kata Henry B. Mayo dalam An Introduction to Democracy Theory yang terbit setengah abad lalu, menentukan “kebijaksanaan umum atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat” , tetapi juga adanya “suasana terjaminnya kebebasan politik”. Dari Mayo kita tahu “suasana” (condition) yang dibangun demokrasi tak hanya berada pada permukaan. Ia mengharuskan suatu “kebebasan” yang turun dan meluas, pada suasana yang paling asasi.
Oleh karena itulah kemudian muncul negara-negara Rechtsstaat, yang berusaha membatasi kekuasaan pemerintah melalui konstitusi. Dalam Rechtsstaat berlakulah semboyan: government by laws, not by men. Carl J. Friedrich, penulis Constitutional Government and Democracy : Theory and Practice in Europe and America, mengurai suatu ide “pembatasan” berbentuk konstitusi untuk mencegah “mereka yang mendapat tugas untuk memerintah” untuk tak menindas rakyat, menyalahgunakan kekuasaannya.
Tapi sejak beberapa dekade lalu ada bayang-bayang di mana kata “tindas” bermakna tak berasa, selain tak berdaya. Rakyat seakan bersedia ditindas, atau mereka tak tahu harus berbuat apa bila faktanya bahwa konstitusi itu sendiri tak berpihak pada mereka. Suara perwakilan adalah getaran di ruang hampa. Rakyat mengawasi, menyampaikan, tapi telah ditipu. Dan negara, tak terlepas dari sikap “wakil-wakil”, seperti menyerusukkan dirinya ke dalam legitimasi yang rendah di hadapan rakyat demi memperkuat kepentingan lembaga.
Ini mungkin membuktikan sesuatu yang old dalam tulisan Anderson. Negara, tulisnya, tak didefinisikan sebagai sebuah badan kumpulan orang (“birokrasi”). Ia harus diartikan sebagai sebuah lembaga yang dalam proses hidupnya “menyerap, membina, dan menendang personalia, seringkali dalam waktu yang panjang”.
Maka, ia, “lembaga-modern”, seperti variasi pembedaan daya-imajinasi Alers dalam Um een rode of groene Merdeka: Tien Jaren Binnelangse Politiek: Indonesia 1943-1953, akan menjalankan sebuah kebijaksanaan yang merupakan sebuah panduan yang berubah-ubah dari dua jenis kepentingan umum, yaitu “kepentingan negara” –sebagai suatu yang sifatnya “representatif”- dan “kepentingan bangsa” –sebagai suatu yang sifatnya “partisipatoris”. Dengan kata lain, yang old adalah “baju” Orde Baru: mereka memakai paham kolonial dengan mengebiri kepentingan “partisipatoris”, menindas rakyat demi “kepentingan negara”.
Barangkali tak bisa dilepaskan bahwa Orde Baru berkuasa sebagai sebuah rezim sendiri. Ia tak tampak muncul dalam keadaan darurat, yang menyebabkannya mesti kembali pada sistem Orde Lama. Ia, meminjam klasifikasi Nordlinger, disebut “tipe pemerintahan Pretorian” di mana masa depan rezim “tak akan berubah”, dengan “kesinambungan atau pelestarian kuasa” yang absah. Mungkin saat itu keadaan memang genting, tapi Orde Baru lahir dengan keperkasaan (“bak” atau “memang”?) pahlawan dengan latar belakang militer: membersihkan unsur-unsur PKI dan pendukung nasionalis-radikal Soekarnois.
Dengan posisi kuasa seperti itu aparat negara menguatkan diri. Entah terperdaya, atau terlena dengan kekuasaan, secara pasti dunia saat itu telah mengenal pandangan realis —juga Orde Baru. Orde Baru tumbuh dengan “stabil’ dan “mencengkeram” di segala lini kehidupan masyarakat. Pegawai pemerintahan yang tak memilih Golkar, sebagai mesin rezim berkuasa dalam pemilu, harus bersiap diberhentikan dari tugasnya. Was-was Holbrooke pun relevan, meski tak sepersis yang ada dalam benaknya, mungkin.
Tapi tampilan Reformasi yang sekarang juga dinilai tak terlalu baik. Kita melihat dengan muram, susah, atau bingung, mengenai pandangan ke depan tentang tujuan dari re- yang dimaksud. Hal-hal sesungguhnya patut disyukuri: zaman ini militer tak dominan, tapi penguasa seperti Soekarno dengan ke-otoriteran-nya saat-saat akhir kisahnya sebagai presiden juga tak ada.
Mungkin ini “baju baru”. Tapi bukankah kita seharusnya bahagia dengan “baju baru”? Atau dengan ramalan bahwa akan ada mayoritas yang sangat kuat di parlemen, apakah kita akan melihat “baju lama” Orde Baru jilid II? Saya terkenang ucapan seseorang bernama Gulem: it was filthy, but it was our only hope.
Kapitalisme October 5, 2009
Posted by zidan1 in lubang yang (biasa) tersingkap, mungkin akan datang.add a comment
Orang-orang dengan sadar menyelidik dan agak ringan berkata: sosialisme kini tak ada kabarnya.
Zaman ini dipandang seolah hanya pada satu arah: demokrasi dan kapitalisme. Dan yang lain terlihat mengangkat bahu, mungkin dengan sunggingan senyum tipis, dan isyarat kedua tangan mengembang: apa boleh buat. Mayoritas umat manusia nampaknya ingin dunia berjalan dengan demokratisasi di mana-mana.
Mereka berdua –demokrasi dan kapitalisme- itu agaknya semakin tidak terpisahkan. Kapitalisme yang memacu pertumbuhan ekonomi, dan demokrasi yang berperan sebagai kontrol kekuasaan bagi negara agar tak menyeleweng, memikat aktor-aktor internasional, dalam politik maupun ekonomi internasional. Negara dipersempit akses dengan sekedar menjadi penjaga garis urusan-urusan.
Dan demokrasi, bersama kapitalisme, secara perlahan menjadi suatu paham yang seolah-olah “harus” mendunia. Ketika sebuah negara tak memakai demokrasi dan kapitalisme kita seakan-akan –dibuat atau tak dibuat, sadar atau tidak sadar- mafhum kalau dunia tak meliriknya dengan lirikan bernada hormat –dengan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia melekat padanya.
●●●
Demokrasi, bisa seperti kata Fareed Zakaria, redaktur majalah Newsweek itu, adalah “piranti cantik modernitas”.
Kedatangannya di “Dunia Ketiga” pun seolah seperti ditemukannya suatu obat mujarab: demokrasi diharapkan menjadi solusi permasalahan bangsa. Tentu, setelah beberapa dekade kita tahu, saat ini harapan itu kemudian terlalu tinggi.
Dalam Comparative Politics Today, A World View (ninth edition), dijelaskan sebuah proses pembuatan kebijakan:
Interest articulation involves individualism and group expressing their needs and demands.
Interest aggregation combines different demands into policy proposals backed by siginificant political resources.
Policymaking decides which policy proposals are to become authoritarian rules.
Policy implementation carries out and enforce public policies; policy adjudication settles disputes about their applications.
Yang tersusun dalam proses tersebut memang kemudian tak bisa dipisahkan dengan sistem demokrasi. Artikulasi-artikulasi –suatu suara bebas dari orang per orang- hanya mungkin mendapatkan tempatnya melalui “proses” atau “sistem” yang menjamin suasana tersebut. Dengan kata lain, ocehan-ocehan rakyat tak boleh dibungkam, ia malahan mesti diberikan fasilitas secara konstitusional. Ia, suara-suara para demos tersebut, diharapkan menjadi motor pembangunan bagi negara.
Interest aggregation pada tahap kedua menimbulkan desakan secara formal atau resmi bagi pembuatan kebijakan suatu pemerintahan, meski tak selalu diimplementasikan. Tapi yang jelas adalah bahwa suara-suara rakyat tersebut menuju ke arah policymaking. Aliran ini, bagi sebuah sistem, adalah sesuatu yang sangat mendasar harus ada. Hak-hak individu, asas-asas kemerdekaan berpendapat, merupakan syarat untuk demokrasi liberal.
●●●
Rezim ekonomi yang cocok dengan demokrasi, juga dengan kebebasan individu, adalah rezim pasar. Demokrasi dalam hubungan internasional memunculkan kapitalisme melalui paham kebebasan individu. Dan di sini kapitalisme menunjukkan bahwa penindasan tidak hanya terjadi dalam kekuasaan politik yang otoriter.
Penindasan di pasar bebas, yang tanpa campur tangan pemerintah itu, terjadi karena kekuatan yang tidak adil. Hak-hak sama, tapi tanpa kekuatan yang berimbang, pasar bebas hanya nampak bertujuan untuk menggusur pihak yang lebih lemah. Seorang pengusaha kaya, punya akses ke para pejabat tinggi negara, jelas tak bisa dikatakan adil jika ia berhadapan dengan buruh yang miskin dalam perdagangan.
Sebagian orang pun bertanya resah : mungkinkah meminta pasar untuk bersikap adil?
Pemenang hadial Nobel, F. A. Hayek, menjawab: tidak mungkin. Ia secara terbuka mengakui bahwa sebuah masyarakat yang berbasis pasar bebas akan menciptakan kesempatan-kesempatan yang tidak adil dan tidak pada tempatnya.
Perusahaan-perusahaan raksasa, perusahaan-prusahaan multinasional menguasai pasar. Lalu yang terjadi adalah kapitalisme korporasi dan pasar, seperti kata Hayek, “tidak melihat adanya kebutuhan untuk membela kepentingan-kepentingan usaha kecil dan para konsumen”.
Untuk itu, kita kemudian memang harus berhati-hati karena adanya dua tujuan berbeda antara pihak-pihak yang menuntut atau pro-demokratisasi. Tuntutan demokrasi bagi kelas bawah disebabkan mereka tergusur, diperdaya untuk tetap tak berdaya, menjadi lelucon kekuatan ekonomi yang dikuasai pengusaha dan negara. Karena itu, mereka ingin bebas dari jeratan-jeratan kekuatan gabungan dua pihak tersebut.
Demokrasi untuk kelas menengah berarti bahwa mereka ingin persaingan bebas. Joseph Schumpeter dalam Capitalism, Socialism, and Democracy menuliskan :
“skema hal-ihwal [kaum] borjuis membatasi wilayah politik dengan membatasi wilayah otoritas publik; pemecahannya ada dalam ideal negara yang ramping yang hadir terutama untuk menjamin legalitas borjuis dan memberikan kerangka yang kuat bagi usaha individu yang otonom di semua bidang.”
Kaum borjuis (beberapa pengamat menyebutnya kelas menengah) menganggap demokratisasi penting untuk mencegah campur tangan negara. Mereka ingin bersaing secara bebas. Tapi dengan ini kelas menengah ke bawah akan bisa dieksploitasi. Peran negara harus hadir di sini untuk mencegah eksploitasi –dan tentu saja kita berbicara eksploitasi dalam hubungannya dengan hak asasi manusia.
Toh dengan adanya kapitalisme pertumbuhan ekonomi tidak hadir dengan pengentasan kemiskinan dan pengangguran. John Perkins dalam The Economic Hit Man mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi bisa terjadi “walaupun hanya menguntungkan satu orang saja, yaitu yang memiliki perusahaan jasa publik, dengan membebani utang yang sangat berat buat rakyatnya”. Statistik kemajuan ekonomi, tambah Perkins, terjadi dalam kondisi “yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin”.
Di sini kita terhimpit dalam dua ekstrim : sikap tak suka pada negara untuk ikut campur, dan sikap mengundang negara (dalam demokrasi dan kapitalisme) untuk melindungai pihak yang lemah.
●●●
Para pengamat, dengan mempertimbangkan sejarah, meyimpulkan pengalaman tidak enak untuk kebebasan individual berasal dari absolutisme monarki, dogma-dogma agama, teror pemerintahan diktator, serta tangan besi totaliterisme. Pemimpin diktator beserta rezim yang otoriter memang belum tamat –dan kita tak tahu apakah benar mereka akan sepenuhnya tak ada. Tapi setidaknya kita bisa bilang bahwa mereka makin terdengar sayup-sayup di dunia “bebas” ini.
Pada akhirnya kita tak bisa menaruh rasa tidak enak itu pada sisi kediktatoran atau totaliterisme saja. Demokrasi dan kapitalisme memiliki sisi kelam yang tak bisa diingkari –selain dilema-dilema antara kelas bawah-menengah yang membuat wajah merengut.
Tapi pada era globalisasi ini, tak hanya lingkup negara yang diancam dengan sistem demokrasi dan kapitalisme. Morgenthau, pemikir berpaham realis itu melihat dunia saat ini dipenuhi elemen “kekuasaan”. Ia menulis dalam Politics Among Nation yang terbit pertama kali pada tahun 1947:
“Politik internasional, seperti halnya semua politik, adalah perjuangan memperoleh kekuasaan. Apapun tujuan akhir dari politik internasional, tujuan menengahnya adalah kekuasaan. Negarawan-negarawan dan bangsa-bangsa mungkin mengejar tujuan akhir berupa kebebasan, keamanan, kemakmuran, atau kekuasaan itu sendiri. Mereka mungkin mendefinisikan tujuan-tujuan mereka itu dalam pengertian tujuan yang religious, filosofis, ekonomis atau sosial. Mereka mungkin berharap bahwa tujuan ini akan terwujud melalui perkembangan alamiah urusan kemanusiaan. Tetapi begitu mereka berusaha mencapai tujuan-tujuan mereka dengan menggunakan politik internasional, mereka melakukannya dengan berupaya memperoleh kekuasaan”
Dari sini kita melihat kapitalisme internasional yang mengancam untuk sebuah “keadilan”, lebih dari “persamaan hak-hak asasi”. Korporasi internasional yang berkembang sejalan dengan liberalisme –dan kita bisa menggolongkannya sebagai kelas menengah ke atas- menginginkan “kekuasaan” dalam negara-negara yang didatanginya. Perekonomian nasional pun tak sanggup bersaing dengan perusahaan-perusahaan multinasional tersebut.
Barangkali salah satu dari kita harus menilik ke belakang, ke masa-masa Yunano Kuno berabad-abad silam. Ketika seorang buruk rupa yang setia pada kemerdekaan berpikir dan menyatakan pendapat, Socrates, justru mendapatkan nonsens dalam “demokrasi”. Gairah, atau passion, pada akhirnya mesti dimiliki bersama untuk menuju “demokrasi” (baik politik maupun ekonomi) bagi semua pihak.
Nasib, tak pernah bisa ditentukan sendiri.
Aria September 29, 2009
Posted by zidan1 in resensi-resensi.add a comment
Namanya –dalam film Eagle Eye garapan sutradara Caruso itu- Jerry Shaw. Ia, aktor tampan yang sukses dalam film Disturbia, Shia Labeouf. Jerry sebenarnya hanya seorang pegawai fotokopi –dan sedikit pandai berjudi kecil-kecilan. Tapi kematian saudaranya yang misterius membuat dunianya jadi lain: ia hidup memburu dan diburu karena dituduh sebagai teroris.
Ia diburu FBI, dan polisi, lalu ia lari. Terseok-seok, meninggalkan kontrakan, penuh resiko, tapi dengan arah yang jelas sekaligus tegang: suara seorang wanita tak dikenal meneleponnya dan memberitahu segala jalan untuk lolos dari berbagai ancaman.
Tapi dengan itu ancaman terus saja muncul dan tak mau stop: Jerry, bersama seorang ibu yang anaknya diculik secara misterius pula, Rachel Holloman, berpindah dari satu ancaman mati ke ancaman mati lainnya, dengan tak tahu ujungnya akan seperti apa. Mereka tak bisa lolos atau bertindak di luar kendali sang wanita misterius. Seperti ada mata elang yang memata-matai seluruh gerak-gerik keduanya dan mereka berdua harus menaati segala perintah karena hanya dengan begitu kekhawatiran akan kematian tak begitu mencengkeram.
Toh, mereka dari scene ke scene mulai berpikir rasional untuk menurut : ancaman kematian seseorang-yang-seperti-mereka yang tak menurut dilihat dengan kepala mata sendiri ketika seorang keturunan Arab tak mau meneruskan perintah mati terkena listrik di suatu pembangkit.
Pada akhirnya mereka mengenal asal suara wanita itu : Aria –suatu proyek pemerintah Amerika Serikat yang digunakan untuk tetap menjalankan sistem pemerintahan bahkan ketika tak ada presiden. Dan Jerry menjadi tahu segalanya : kematian Ethan Shaw, saudara kembarnya, adalah karena Ethan mencoba menghentikan ketidakberesan program Aria.
Di sinilah, ketika pertemuannya dengan Aria, ia dihadapkan pada kenyataan menyesakkan ketika Aria, yang ‘hanya’ mesin itu bersabda : Jeery Shaw harus dihilangkan. Aria beralasan semua yang diperbuatnya selama ini adalah demi ‘keamanan nasional’.
Aria pun mengungkapkan dengan inti : perubahan rezim mesti dilaksanakan. Ia kemudian merancang pembunuhan presiden Amerika Serikat. Dengan memakai alat seperti Jerry Shaw dan Rachel Holloman, serta anaknya, pembunuhan Presiden dilaksanakan dengan heksametilen, peledak kristal yang peledakannya dipicu suara.
Haruskah sebuah alat atau mesin, dengan data-data, dibenarkan menentukan nasib sebuah negara dan orang-orang di dalamnya?
Tentu jawabannya : tidak. Bukan karena film ini membuat kita bersimpati pada Jerry, atau Morgan yang mengorbankan dirinya untuk presiden. Tapi kita tahu bahwa memori pada sebuah mesin tak mengandung maknanya yang tepat. Ia bisa menerjemahkan secara salah, atau dengan persepsi yang keliru mengenai “usaha-usaha demi keamanan nasional”. Dan hal itupun terjadi : Aria membahayakan warga negara yang seharusnya dilindunginya.
Dengan ini saya tak mengatakan bahwa manusia memiliki kebenaran mutlak. Bahkan manusia lebih sering tak bisa diatur, liar, seakan-akan tak punya perasaan dan akal yang membuatnya menjadi makhluk mahajahat adalah bukan hal baru dan ganjil. Perang Dunia memperlihatkan ambisi manusia yang menindas dengan aksen ‘menghabisi’ yang dibenarkan keyakinan masing-masing.
Setidaknya manusia mampu membedakan antara ‘wants’ dan ’needs’ dalam arena konflik. Dan ‘wants’, kita tahu, tak selalu dengan kapasitas yang tepat menunjukkan sebuah ‘needs’ sebagai sesuatu yang inti. Dalam dua ‘wants’ kadang ada perbedaan yang saling menentang. Dan dua ‘needs’’ membantu menentukan ‘limits’ untuk alternatif yang sesuai. Itulah yang kemudian terjadi, ketika proyek Aria, sebagai suatu ‘wants’, dapat ditiadakan tanpa menggusur suatu ‘needs’-suatu tujuan demi keamanan nasional.
Tapi benarkah di balik Aria itu sebenarnya sempat tercetus latar belakang kekhawatiran akan suatu assassination?
14 April 1865, Lincoln ditembak ketika tengah menonton sebuah pertunjukan di Ford Theater, Washington DC. John Fitzgerald Kennedy, presiden ke-35 AS, ditembak sniper saat berpawai di dealey plaza, Dallas, Texas pada 22 November 1963. Itu hanya dua kejadian yang mewakili beberapa penembakan atas presiden. Peristiwa 11 September merupakan peristiwa yang tak terlupakan lainnya. Tapi agaknya kita, entah dengan sedikit ragu atau tidak, sama-sama berpikir tentang konspirasi Yahudi atau alasan kebencian suatu pihak pada Amerika.
Fareed Zakaria, redaktur majalah Newsweek, pada delapan tahun lalu menulis dalam sebuah kolom tentang kebencian kepada Amerika yang memunculkan fundamentalisme dan sikap anti-Amerika. Meski hadir dengan “glamor”, “modernitas yang berkilau”, dengan status yang “lebih kaya, lebih kuat, dan lebih menarik” ketika muncul pada Perang Dunia II, Amerika telah terlanjur mengecewakan.
Seorang intelektual Arab senior dengan gagah dan simpatik menyebut kota-kota di Singapura. Hongkong, dan Seoul sebagai “tiruan murahan dari Houston dan Dallas” dan mereka, kaum Arab itu, dengan harga diri “pewaris salah satu peradaban besar dunia”, tak mau menjadi “daerah kumuhnya Barat”.
Yang diyakini Fareed adalah tak adanya “semangat masyarakat modern” dalam globalisasi yang terjadi di Timur Tengah selain kedatangan Cadillac, McDonald’s serta makanan siap saji dan minuman soda. Tak ada pasar bebas, partai politik, pertanggungjawaban, dan undang-undang yang mencirikan “semangat masyarakat modern”. Di sini Fareed melihat adanya globalisasi yang tak boleh disentuh, dengan “kleptokrasi yang memuakkan dan korup”. Menjadikan penindasan rakyat atas kekayaan raja-raja dan pangeran. Hal itu berefek pada bangkitnya gairah fundamentalis yang menyebar bukan hanya di Timur Tengah, atas nama ketidakpuasan kepada kegagalan total dari lembaga-lembaga politik yang mengindahkan penyelewengan rezim. Dan kaum fundamentalis itulah, menurut Fareed, dan mungkin kebanyakan analis, sebagai tersangka kasus terorisme.
Dan peneror, balik akan diburu dan dihukum. Tak beruntungnya, Aria yang seakan tahu segalanya itu tak semata rekaan. Aria, seperti diceritakan Shia LeBeouf, memiliki suatu yang khas CIA. Agen CIA, yang bergerak seperti Aria itu menakutkan sang aktor, Shia LeBeouf, “Hal yang menakutkan adalah duduk bersama dengan para petugas CIA, yang menggunakan semua ini.”
Dengan ini teror akan dilawan dengan teror. Fareed Zakaria menulis pada 2001, dan Eagle Eye diproduksi tahun 2008, tapi agaknya keduanya menceritakan hal yang bersahabat dengan zaman ke zaman untuk sebuah pelajaran tentang dibenci-membenci, diawasi-mengawasi, dan diburu-memburu.
Untuk tak terlibat, pangggillah kematian.