D/Q/P June 8, 2009
Posted by zidan1 in lubang yang (biasa) tersingkap, mereka, dan mereka, dan aku.trackback
“Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa yang mengaku bertanggung jawab, tak satu pun. Bila semua pihak menghindar, biarlah saya yang menanggungnya, semua atau sebagiannya. Saya harus mengambil alih tanggung jawab ini, dengan kesedihan yang sungguh, seperti saya menangisinya saat pertama kali menginjakkan kaki di mata air peradaban modern, beberapa waktu silam.” –mengenang Ustadz Rahmat Abdullah [wafat: 14-6-2005], kutipan dalam Sebuah Kesaksian.
D//
Kau dulu berkata: pahlawan, dengan segala sifat manusiawinya, tak begitu saja tamat. Di akhir Uhud itu, umat muslim kalah. Akibat khilaf yang terlambat diantisipasi. Pejuang yang syahid adalah dua kali lipat lebih banyak dari pihak kafir yang terbunuh.
Oh, mereka telah terbunuh, katamu. Roh-roh, dilepas angin yang terputus-putus menyisir dataran panas, menghembus pasir gurun. Dan kau, dengan sangat yakin dan tegas, melanjutkan dengan koreksi: tapi mereka tak mati-mati! Mereka itu hidup, akan tetapi kalian tidak merasa. [al Baqarah:154]
Hikayat pahlawan belum usai, pun ketika dalam sepotong riwayatnya, Rasulullah masih sempat menyentuh jenak-jenak waktu kita sekarang dengan sebuah tangis. “Aku sangat rindu ingin bertemu dengan saudara-saudaraku.” Para sahabat –sosok yang disebut Abdullah bin Mas’ud sebagai “hati-hati terbaik setelah hati Nabi Muhammad saw”- bertanya keheranan, “Bukankah kami ini merupakan saudara-saudara engkau wahai Rasulullah?” “Tidak”, kata Rasul, “Kalian adalah sahabat-sahabatku, sedangkan saudara-saudara yang aku maksud itu adalah kaum yang akan dilahirkan setelah kepergianku, mereka beriman kepadaku, padahal mereka tidak bertemu denganku.”
“Saudara-saudara” sang Nabi, tak ayal, termasuk yang berada di masa susah saat ini. Mereka tak meramal masa depan, tapi mencoba mengukir sejarah kebangkitan. Mereka mungkin berciri sama seperti “sahabat”: penuh pesona. Mereka termasuk orang-orang yang dengan beruntung “mendapatkan do’a yang tidak dapat ditolak” yang kata Nabi disimpan “untuk umatku di padang mahsyar nanti.” Harusnya, ketika ada cinta, kita yang mengaku “umat” memberikan yang terbaik ‘kan? Di mana rasa itu sekarang, saudaraku, Q?
/Q/
Tak usah kau berpikir diriku sama seperti dulu, Dalimunte. Kepahlawanan? Aku pernah berkehendak tak selalu pasti dalam harap. Masih selalu ada sang Nabi di suatu tempat khusus dalam diriku. Ia, seperti impian akan surga bagi manusia beriman, akan selalu ada.
Tapi, tak dapat disangkal, kita hidup di tanah air tempat Soekarno pernah lantang mengatakan bahwa, “…tiap-tiap machluk, tiap-tiap ummat, tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti achirnja berbangkit, pasti achirja bangun, pasti achirnja menggerakkan tenaganja, kalau ia sudah terlalu sekali merasakan tjelakanja diri teraniaya oleh suatu daja angkara murka!!”
Kau mengerti apa yang dimaksud “terlalu sekali merasakan tjekanja diri teraniaya”? Zaman ini kita melihat keburukan yang “biasa-biasa saja”, yang tak membuat kita tergerak, “bangun”, “berbangkit”, karena tak lagi nampak kelatahan di sekitar –yang karena itu menjadi bukan dalam keadaan “terlalu sekali”. Dengan mimik tenang dan sepenuhnya wajar kita bahas korupsi; dengan tak ada gairah kita bicara bobroknya pembangunan; dengan tak khawatir kita menyoal rendahnya jiwa kebangsaan; dan dengan datar, meski tak gagu, kita bicara masuknya antek asing yang menguasai negeri.
Kita tak lagi mempermasalahkan, seperti yang dipaparkan seorang penulis, “tega” dan “tak tega”, atau “salah” dan “tak salah”. Kini kita bicara siapa yang “lebih tega”, yang “lebih buruk”, yang “lebih korup”. Dunia seluruhnya seakan berkadar negatif, dan perdebatan hanyalah soal seberapa jauh kita terlempar, hanyut, dan tenggelam dalam arus. Tak ada lagi, yang dengan penuh seluruh hati, dengan tak ada hipokrisi atau penjilatan, kita sebut pahlawan –yang selanjutnya tertulis “P”.
Menjadi orang yang biasa-biasa adalah pilihan terbaik dalam keadaan sekarang. Tak sering berdosa (bukankah surga menginginkan orang yang tak –atau sedikit dalam berbuat- berdosa dengan kehidupan “biasa” atau “normal” yang bermanfaat?), dan dengan itu pula, tak terjerumus kepada kelicikan besar lingkaran setan, juga yang punya kans untuk tak dirugikan –lagi-lagi- secara “lebih besar”.
Apa masih akan ada orang arif, seorang P, yang dengannya selesai, atau setidaknya teratasi, semua masalah? Andaikan pernah ada optimisme, –dan itu bukan aku lagi- kau pasti telah mendengar tentang Iqbal. Sebelum kematiannya ia mencoba obyektif dalam sajak penghabisannya: “Seorang arif lain akan datang, mungkin juga tidak”.
D//
Aku suatu hari membaca Iqbal, dan aku tersenyum mengetahui benarnya ucapmu tentang yang mungkin-datang-dan-tidak itu. Tapi Abu Tammam bukannya tanpa alasan ketika dia menyair hikmah di tanah Arab: tak ada yang kutemukan dalam diri manusia, melebihi aib orang-orang yang sanggup menjadi sempurna, namun tidak mau menjadi sempurna.
Kita, tentu, tak menunggu Ratu Adil yang sempurna, Q. Itu irasional, dan dalam beberapa hal, membawa ke arah yang salah dengan samar-samar. Natsir telah membaca gejala irrational ini 50 tahun lalu dalam pidatonya, Restoring Confidence in Democracy dalam suatu masyarakat yang :
“…among some section of the population there is an attitude of resignation coupled with the blind hope for the coming of a Ratu Adil, a powerful leader whose wisdom would right all wrong…”
Debur datangnya P, tak dibangun dari harapan yang buta. P ada dari terambilnya tanggungan itu, ketika “kemanusiaan terkapar” dan “semua pihak menghindar.” Yang berani menantang kemarau dan hujan yang letih, serta angin yang menggigil logika, kadang dengan air mata menetes zaman diseru sampai jauh: Datanglah!
/Q/
Enam bulan sebelum mati, Trotsky, tokoh Revolusi Rusia yang akhirnya terbuang di Coyoacan Meksiko tetap terlihat optimis. Dan ia, yang hidup dalam ancaman pembunuhan “agen-agen” Stalin, sempat menulis dalam surat wasiatnya, “Hidup ini indah. Biarkan generasi mendatang membersihkannya dari semua kekejian, penindasan, kekerasan, dan menikmatinya sampai penuh.”
Tapi benarkah Trotsky –yang kematiannya, kita tahu, tinggal menunggu bulan dengan hari-hari, jam-jam, menit-menit, detik-detik, di bawah bayang-bayang ancaman pembunuhan mata-mata musuh- bahwa “hidup ini indah”? Tapi benarkah segala yang ia tak ingin ada –kekejian, penindasan, kekerasan- bisa “bersih” dan kita bisa merasainya dengan nyaman, “sampai penuh”?
Kau pasti melihat obskuritas di masa depan. Benakmu bukan neon terang. Keremangan itu tampak berkecamuk, dan orang-orang bergerombol ingin tahu apa yang akan jelas –dan berharap cerah- terjadi, dan orang-orang tak ada yang bisa mencegah pandangannya sendiri. Semua kabur, semua jadi rabun meski sesungguhnya itulah kenyataannya. Segalanya: tak ada yang “indah”, seperti dunia dalam pandangan sewaktu kita kanak-kanak.
Arah makna memang tak bisa kemudian selalu dibatasi ketika Sutardji Calzoum Bachri berkata-kata batu kehilangan diam/jam kehilangan waktu/pisau kehilangan tikam. Tapi kau, Dalimunte, –yang sama sepertiku sebagai subyek yang bebas dari penjajahan pengertian sang penyair– mungkin kau bisa bilang setuju, bahwa dalam hal ini: kau kehilangan aku…
D//
Kini, di sini –di tanah yang tak sepenuhnya tenteram, bahkan penuh resesi yang tak canggung untuk terus tampil, kau berubah terlalu cepat. Atau hanya lelah, mungkin? Kau mungkin hanya butuh jeda, butuh waktu pengalihan, yang membuatmu kembali melihat segala sesuatunya dari jauh, agar tak takluk –yang mempercepat kelam merasuk sampai dalam, sampai harapan terkubur dalam di hadapan realita. Kau masih cakap untuk menggalinya, Q.
Di akhirat, orang baik yang masuk surga tak mungkin turun kasta ke neraka. Tapi ini dunia, orang baik bisa jadi tak baik. Tapi seperti itu bukan berarti kita akan mencemooh orang-orang, atau kita sendiri, yang nanti entah akan berubah menjadi baik atau buruk. Kadang susah untuk memaafkan keadaan. Barangkali itu sebabnya, if Men were Angels, kata James Madison yang salah satu pendiri Republik Amerika itu, no government would be necessary. Maka, aku tetap percaya…
Kaulah P. Tentu kepahlawanan adalah momen dan subyek yang lepas dari solipsisme. Karena tak sibuk dengan mengakui diri sendiri itu pula, zaman tak bergantung pada satu P atau satu calon P. Jika kau tidak, biarlah kepada diriku, dan beratus orang lain di tanah air ini, aku berkata: jadilah P!
//P
Soalnya kemudian: siapa kita yang D? yang Q? atau P?
Comments»
No comments yet — be the first.